Aku merasakan kejanggalan pada tubuhku ketika aku bangun pagi ini. Begitu membuka mata, butuh beberapa detik bagiku untuk sadar bahwa aku tidur di kamarku yang lama. Heran, aku melihat kanan-kiri mencari bibiku yang seharusnya menempati kamar ini. Tidak ada. Aku turun dari kasur, melangkah ke luar kamar untuk mencarinya.
Lho, ruang keluarga pun terlihat tidak biasa. Tata ruangnya kembali seperti beberapa waktu yang lalu. Suasana rumah pun terasa berbeda. Aku bingung, dari segi mana? Ini rumah yang kutinggali, kok. Kenapa rasanya asing?
Suara klak klik klak klik dari lantai dua mengalihkan perhatianku. Aku mendongak, mencoba mencari sumber suara itu dari mezzanine. Kemudian kedua mataku membelalak, mulutku menganga, dan badanku bergetar hebat. Terlihat sosok yang seharusnya tidak mungkin ada di situ.
Aku panik. Apa yang sedang terjadi? Dengan cepat, aku memindai kalender yang berada tepat di belakangku. Astaga, benar dugaanku. Aku sedang bermimpi. Kalender menunjukkan tahun 2015, bukan 2020 seperti ketika aku pergi tidur malam tadi.
Terdiam sejenak, lalu aku memberanikan diri naik tangga. "Jovan!" Kupanggil nama adikku yang sudah lama tidak keluar dari mulutku.
Dia menoleh. Jovan, di hadapanku, dengan headset yang tertempel permanen di telinganya sedang duduk di singgasana berputar warna biru. "Apa?" tanyanya, sedikit ketus. Kalau sudah main DOTA, dia tidak suka diganggu.
Aku diam sebentar, kemudian menggeleng. Dia kembali pada cintanya, sang PC. Aku terduduk di lantai tanpa suara, berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Entah bagaimana, aku sedang kembali ke tahun 2015, setahun sebelum dia meninggalkan kami untuk selamanya. Kenapa?
Tapi kemudian aku menyingkirkan pertanyaan itu. Tidak begitu penting alasan dan caraku kembali ke sini. Sekarang adik bungsuku ada di hadapanku, dan aku memiliki banyak sekali hal yang ingin aku katakan kepadanya. Aku bangkit dan menghampirinya.
"Jo," panggilku lagi, kali ini meletakkan tanganku di bahunya. Ada seribu satu pikiran yang berkecamuk di kepalaku, tapi akhirnya hanya ini yang aku katakan: "Ajarin mainnyalah."
"DOTA?" tanyanya dengan bumbu tawa.
"Iya. Abis aku udah tamat main Skyrim."
Dia mengangkat bahunya sekilas, kemudian bangkit dan memberiku isyarat untuk duduk di kursi yang tadi didudukinya. Dengan gaya khas Jovan, dia mengajariku apa saja yang dia pikir perlu aku tahu pada kali pertamaku memainkan game favoritnya. Sedikit-sedikit kucerna apa yang sedang diajarkannya, kemudian kupraktekkan. Seperti dugaan kami, aku tidak pandai dalam permainan ini.
Tapi tidak apa-apa. Aku tidak mengerti kenapa dan bagaimana aku kembali ke hari ini, bertemunya lagi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku tidur nanti: apakah aku akan bangun di keesokan hari, atau kembali ke 2020 lagi? Aku tidak tahu apakah ada hal yang bisa aku lakukan untuk mengubah kenyataan - untuk tidak membiarkannya mati tahun depan. Yang aku tahu, aku merindukannya, dan jika bermain DOTA adalah satu-satunya jalan agar kami dapat melewati waktu bersama, aku akan menjadi Crystal Maiden atau Omniknight atau apalah itu asalkan aku bisa melewati waktu dengannya.
Tampilkan postingan dengan label Couchsurfing Writers Club. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Couchsurfing Writers Club. Tampilkan semua postingan
Kamis, 30 April 2020
Jumat, 24 April 2020
SKRPM versi 3.2: JODOH ATAU BUKAN
"Selamat, Anda telah terpilih menjadi penguji beta SKRPM versi 3.2!"
Mataku mengernyit membaca subject email yang baru saja muncul di layar ponselku. Aku tidak ingat pernah daftar untuk menjadi penguji beta aplikasi apa-apa. Tapi...
Tentu saja aku tahu soal aplikasi ini. Banyak rumor yang beredar mengatakan bahwa aplikasi super ini bisa digunakan untuk melakukan apa saja. Terdengar misterius dan berbahaya? Tentu. Apakah aku akan mencobanya? Sudah pasti.
Setelah menjalani proses registrasi yang lumayan panjang, akhirnya aku dihadapkan pada laman yang menawarkan alat-alat untuk membuat fungsi yang aku inginkan dari aplikasi ini. Dengan keterbatasan kemampuanku ternyata tidak begitu sulit untuk merancang kegunaan yang aku mau.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya kata 'loading...' di layar berubah menjadi 'JODOH ATAU BUKAN? telah dapat digunakan.'
Aku bangkit dari posisi rebahan dengan penuh semangat, kemudian menatap kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja mengubah kehidupan percintaanku. Ku-input data seseorang yang sudah beberapa minggu ini merajai pikiranku.
Ding! Notifikasi datang. Kedua ujung bibirku otomatis turun ketika melihat tulisan "RESULT: UNCLEAR" sebagai hasilnya. Aku menghela napas.
Kumasukkan data beberapa orang yang dulu pernah singgah di hidupku. Semuanya sama: BUKAN JODOH.
Oke. Sekarang kumasukkan data beberapa orang yang pernah menunjukkan ketertarikan terhadapku. Lagi-lagi sama: BUKAN JODOH.
Sekali lagi, deh. Kucoba lagi memasukkan data orang yang pertama, berharap akan ada jawaban yang berbeda.
"RESULT: UNCLEAR"
Refleks, kulempar ponselku ke ujung kasur. Beruntung barangnya tidak jatuh ke lantai, khawatir retak seperti hatiku saat ini. Aplikasi sial. Kenapa tidak langsung tunjukkan saja siapa jodohku?
Aku menutup mata, membayangkan apa yang akan aku lakukan jika aplikasi itu benar-benar bisa memberitahu aku siapa jodohku sebenarnya. Sialnya, aku tidak bisa menghapus bayangan tentangnya dari kepalaku.
Tahu tidak? Peduli setan apa yang aplikasi ini pikir. Sekarang aku hanya akan melakukan apa yang ingin aku lakukan: meneleponnya. Urusan jodoh atau tidak, mungkin bukan itu yang penting. Mungkin yang penting adalah menikmati waktu yang kami miliki bersama sekarang, itu saja.
Kuraih kembali ponselku, dan dengan kekuatan muscle memory, ibu jariku sangat luwes menekan tombol-tombol yang akhirnya menyambungkanku dengannya. Setelah beberapa detik nada sambung berbunyi, jantungku berhenti berdetak sekilas dan kedua ujung bibirku naik tanpa kendali mendengar suaranya yang sangat familier berkata, "Halo?"
Hehe. Rasa ini yang aku cari. Mungkin seharusnya aku tidak mempedulikan soal jodoh saat kami baru saling mengenal. Atau mungkin konsep jodoh itu outdated dan tidak sempurna. Bodo amat. Yang penting sekarang aku ingin berbincang dengannya tentang hari-hari yang akan kami lalui.
Mataku mengernyit membaca subject email yang baru saja muncul di layar ponselku. Aku tidak ingat pernah daftar untuk menjadi penguji beta aplikasi apa-apa. Tapi...
Tentu saja aku tahu soal aplikasi ini. Banyak rumor yang beredar mengatakan bahwa aplikasi super ini bisa digunakan untuk melakukan apa saja. Terdengar misterius dan berbahaya? Tentu. Apakah aku akan mencobanya? Sudah pasti.
Setelah menjalani proses registrasi yang lumayan panjang, akhirnya aku dihadapkan pada laman yang menawarkan alat-alat untuk membuat fungsi yang aku inginkan dari aplikasi ini. Dengan keterbatasan kemampuanku ternyata tidak begitu sulit untuk merancang kegunaan yang aku mau.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya kata 'loading...' di layar berubah menjadi 'JODOH ATAU BUKAN? telah dapat digunakan.'
Aku bangkit dari posisi rebahan dengan penuh semangat, kemudian menatap kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja mengubah kehidupan percintaanku. Ku-input data seseorang yang sudah beberapa minggu ini merajai pikiranku.
Ding! Notifikasi datang. Kedua ujung bibirku otomatis turun ketika melihat tulisan "RESULT: UNCLEAR" sebagai hasilnya. Aku menghela napas.
Kumasukkan data beberapa orang yang dulu pernah singgah di hidupku. Semuanya sama: BUKAN JODOH.
Oke. Sekarang kumasukkan data beberapa orang yang pernah menunjukkan ketertarikan terhadapku. Lagi-lagi sama: BUKAN JODOH.
Sekali lagi, deh. Kucoba lagi memasukkan data orang yang pertama, berharap akan ada jawaban yang berbeda.
"RESULT: UNCLEAR"
Refleks, kulempar ponselku ke ujung kasur. Beruntung barangnya tidak jatuh ke lantai, khawatir retak seperti hatiku saat ini. Aplikasi sial. Kenapa tidak langsung tunjukkan saja siapa jodohku?
Aku menutup mata, membayangkan apa yang akan aku lakukan jika aplikasi itu benar-benar bisa memberitahu aku siapa jodohku sebenarnya. Sialnya, aku tidak bisa menghapus bayangan tentangnya dari kepalaku.
Tahu tidak? Peduli setan apa yang aplikasi ini pikir. Sekarang aku hanya akan melakukan apa yang ingin aku lakukan: meneleponnya. Urusan jodoh atau tidak, mungkin bukan itu yang penting. Mungkin yang penting adalah menikmati waktu yang kami miliki bersama sekarang, itu saja.
Kuraih kembali ponselku, dan dengan kekuatan muscle memory, ibu jariku sangat luwes menekan tombol-tombol yang akhirnya menyambungkanku dengannya. Setelah beberapa detik nada sambung berbunyi, jantungku berhenti berdetak sekilas dan kedua ujung bibirku naik tanpa kendali mendengar suaranya yang sangat familier berkata, "Halo?"
Hehe. Rasa ini yang aku cari. Mungkin seharusnya aku tidak mempedulikan soal jodoh saat kami baru saling mengenal. Atau mungkin konsep jodoh itu outdated dan tidak sempurna. Bodo amat. Yang penting sekarang aku ingin berbincang dengannya tentang hari-hari yang akan kami lalui.
Labels:
Bahasa Indonesia,
Couchsurfing Writers Club,
CSWC
Kamis, 07 Februari 2019
Pidipopop
Bentuknya bulat, warnanya ungu. Di atas tubuhnya bertabur bulatan-bulatan gelap yang berbau.
Tap, tap, tap, didengarnya suara langkah satu demi satu menghampiri dari sisi kiri.
Tanpa tangan atau kaki, dia tidak bisa lari.
Kemudian para pemilik langkah tersebut sampailah di sampingnya, menunduk, dan mulai menjulurkan lidah mereka. Satu, dua, tiga lidah tergantung layu dari mulut-mulut bertaring tajam.
Kemudian, tes.
Badannya mulai dibasahi liur tetes demi tetes seiring dengan berdansanya lidah-lidah itu pada dirinya, dalam upaya untuk meraih makanan yang entah sejak kapan tersaji di atasnya.
Lembab. Becek. Sengit.
Sang mangkok tidak memiliki mata atau kelenjar air mata, juga hati atau emosi, tapi yang ada di pikirannya sekarang adalah betapa inginnya ia kembali menjadi manusia.
Banyak hal yang tidak menyenangkan ketika dirinya menjadi manusia, itu tentu. Tapi setidaknya, dia memiliki hak untuk menentukan mulut siapa yang berhak menyentuhnya, lidah mana yang boleh merasakannya.
Setelah entah berapa lama, para anjing akhirnya berhasil menghabiskan makanan yang mereka temukan dan mulai menggerakkan keempat kaki mereka untuk mencari kudapan yang lain.
Tinggallah seorang diri, sang mangkok yang kini hampa. Aah, andaikan pidipopop tak pernah nyata...
Tap, tap, tap, didengarnya suara langkah satu demi satu menghampiri dari sisi kiri.
Tanpa tangan atau kaki, dia tidak bisa lari.
Kemudian para pemilik langkah tersebut sampailah di sampingnya, menunduk, dan mulai menjulurkan lidah mereka. Satu, dua, tiga lidah tergantung layu dari mulut-mulut bertaring tajam.
Kemudian, tes.
Badannya mulai dibasahi liur tetes demi tetes seiring dengan berdansanya lidah-lidah itu pada dirinya, dalam upaya untuk meraih makanan yang entah sejak kapan tersaji di atasnya.
Lembab. Becek. Sengit.
Sang mangkok tidak memiliki mata atau kelenjar air mata, juga hati atau emosi, tapi yang ada di pikirannya sekarang adalah betapa inginnya ia kembali menjadi manusia.
Banyak hal yang tidak menyenangkan ketika dirinya menjadi manusia, itu tentu. Tapi setidaknya, dia memiliki hak untuk menentukan mulut siapa yang berhak menyentuhnya, lidah mana yang boleh merasakannya.
Setelah entah berapa lama, para anjing akhirnya berhasil menghabiskan makanan yang mereka temukan dan mulai menggerakkan keempat kaki mereka untuk mencari kudapan yang lain.
Tinggallah seorang diri, sang mangkok yang kini hampa. Aah, andaikan pidipopop tak pernah nyata...
Labels:
Bahasa Indonesia,
Couchsurfing Writers Club,
CSWC
Kamis, 15 November 2018
Green-Eyed Curse
On the eve of his sixteenth birthday
Lost will be his sense and wit
Pray and pray and pray he may
None will save him from the gritting teeth
Of uncertainty
Blinding cloud of doubt and consternation
Envelops his skeleton and skin
Gone is all the granted adoration
Replaced with concern and harsh rejection
Walk and walk and walk he may
Farther from the warmth of the castle
Deeper into the woods of loath and decay
Lost will be his sense and wit
Pray and pray and pray he may
None will save him from the gritting teeth
Of uncertainty
Blinding cloud of doubt and consternation
Envelops his skeleton and skin
Gone is all the granted adoration
Replaced with concern and harsh rejection
Walk and walk and walk he may
Farther from the warmth of the castle
Deeper into the woods of loath and decay
Kamis, 19 Juli 2018
Pride
December 1991: Look at her! My baby girl is born. She will be everything I ever hope for her to be.
December 1997: Look at her! My baby girl is now enrolling in the best primary school. It doesn't matter that she is a year younger than all her classmates - she is my child, so she will be smarter than everybody else's.
December 2004: Look at her! My baby girl is the highest rank in her class. It doesn't matter that she didn't get to do club activities or hang out much with her friends - she is my child, so she will be happy with her grades.
December 2009: Look at her! My baby girl is accepted into one of the best universities in town. It doesn't matter that she won't be studying a subject she's interested in - she is my child, so she will be learning the one I chose.
December 2013: Look at her! My baby girl has graduated magna cum laude. It doesn't matter that she spends a lot of time in her room and barely eats or talks to anybody - she is my child, so she must be looking for a job I will be proud of.
December 2014: Look at her! My baby girl is now working for my friend's company. It doesn't matter that she wanted to work in a different field - she is my child, so I know what is best for her.
December 2017: My baby girl is now lying in the ground. I don't understand why she chose to leave me - all I did was love her and tell her how to live her life so she could make me happy.
December 1997: Look at her! My baby girl is now enrolling in the best primary school. It doesn't matter that she is a year younger than all her classmates - she is my child, so she will be smarter than everybody else's.
December 2004: Look at her! My baby girl is the highest rank in her class. It doesn't matter that she didn't get to do club activities or hang out much with her friends - she is my child, so she will be happy with her grades.
December 2009: Look at her! My baby girl is accepted into one of the best universities in town. It doesn't matter that she won't be studying a subject she's interested in - she is my child, so she will be learning the one I chose.
December 2013: Look at her! My baby girl has graduated magna cum laude. It doesn't matter that she spends a lot of time in her room and barely eats or talks to anybody - she is my child, so she must be looking for a job I will be proud of.
December 2014: Look at her! My baby girl is now working for my friend's company. It doesn't matter that she wanted to work in a different field - she is my child, so I know what is best for her.
December 2017: My baby girl is now lying in the ground. I don't understand why she chose to leave me - all I did was love her and tell her how to live her life so she could make me happy.
Jumat, 29 Juni 2018
Perjamuan Luar Biasa
Mataku terbuka tiba-tiba ketika mendengar keributan orang-orang di luar. Ada apa ya? Terakhir kali ada ribut-ribut seperti ini, Katara dan Sokka membawa pulang seorang bocah yang tidak memiliki rambut alih-alih ikan untuk kami makan seperti biasa. Jangan-jangan kali ini mereka menemukan anak perempuan?
Hal pertama yang aku deteksi ketika keluar dari tenda tempat tinggalku adalah ketakutan. Dalam delapan tahun hidupku, aku belum pernah menemukan rasa cemas sebesar ini di Suku Air Selatan. Panik menguasai tubuhku, memaksaku diam di tempat sementara mataku memindai kerumunan untuk mencari ibuku.
Yang kudapati, justru, adalah moncong sebuah kapal laut besar yang berhasil mendobrak benteng salju desa kami. Di depannya, berdiri seorang kebangsaan Negara Api dengan bekas luka yang mengenaskan menutupi sebagian wajah kirinya. Berteriak-teriak ia memerintah seseorang untuk keluar. Sang Avatar.
Kalau aku tidak sedang terperangkap dalam teror yang besar, aku akan mengernyitkan mataku. Memang tidak banyak hal yang aku tentang dunia, tapi satu hal yang sering diceritakan oleh Nenek Kanna adalah bahwa Avatar adalah seorang legenda yang seharusnya dapat membawa keseimbangan terhadap dunia, tapi hilang sebelum perang seratus tahun ini mulai.
Tiba-tiba, anak botak bertato panah itu menampakkan dirinya. Gila, mau apa dia? Bisa apa seorang anak kecil melawan pasukan Negara Api yang telah membuat dunia ini sebuah mimpi buruk? Entah bagaimana, bocah itu berhasil membujuk Negara Api untuk membawanya pergi dengan syarat desa kami dibiarkan aman. Hal terakhir yang aku lihat sebelum kapal itu akhirnya meninggalkan kami adalah luka di wajah sang Pangeran ketika dia berbalik menjauhi kami.
Beberapa tahun kemudian, aku melihat kembali luka itu. Masih aku ingat betapa pasrahnya aku merasa ketika terakhir kali dia ada di hadapanku. Sekarang, keadaan berbeda.
"Fire Lord Zuko, selamat datang ke kediaman sederhana kami di Kutub Selatan," ujarku seraya memberikan tanganku. Disambutnya dengan jabatan yang hangat, "Terima kasih, Ketua Suku."
Aku mengangguk, kemudian menjabat tangan yang lain. "Terima kasih atas kedatangan Anda, Avatar Aang."
Dia membalasnya dengan senyuman yang lebar. Dia mungkin tidak mengingat aku, tapi seringai itu tidak pernah aku lupakan. Sulit dipercaya, tapi bocah botak inilah yang berhasil membuat dunia dari mimpi buruk menjadi kenyataan yang indah, dibantu oleh pemilik luka di wajah kirinya yang kini menjadi salah satu pemimpin paling bijaksana yang pernah hidup.
Gila. Ini semua dapat terjadi gara-gara suatu hari Katara dan Sokka menemukannya terperangkap di bongkahan es berumur satu abad. Aku bergidik membayangkan bagaimana jadinya kehidupan sekarang jika mereka tidak pernah menemukan Aang...
Ah, sudah, jangan dipikirkan. Tidak ada waktu untuk itu. Sekarang aku harus menjamu sang Avatar dan Fire Lord dan berbincang tentang perdamaian yang akhirnya kami semua dapatkan.
Hal pertama yang aku deteksi ketika keluar dari tenda tempat tinggalku adalah ketakutan. Dalam delapan tahun hidupku, aku belum pernah menemukan rasa cemas sebesar ini di Suku Air Selatan. Panik menguasai tubuhku, memaksaku diam di tempat sementara mataku memindai kerumunan untuk mencari ibuku.
Yang kudapati, justru, adalah moncong sebuah kapal laut besar yang berhasil mendobrak benteng salju desa kami. Di depannya, berdiri seorang kebangsaan Negara Api dengan bekas luka yang mengenaskan menutupi sebagian wajah kirinya. Berteriak-teriak ia memerintah seseorang untuk keluar. Sang Avatar.
Kalau aku tidak sedang terperangkap dalam teror yang besar, aku akan mengernyitkan mataku. Memang tidak banyak hal yang aku tentang dunia, tapi satu hal yang sering diceritakan oleh Nenek Kanna adalah bahwa Avatar adalah seorang legenda yang seharusnya dapat membawa keseimbangan terhadap dunia, tapi hilang sebelum perang seratus tahun ini mulai.
Tiba-tiba, anak botak bertato panah itu menampakkan dirinya. Gila, mau apa dia? Bisa apa seorang anak kecil melawan pasukan Negara Api yang telah membuat dunia ini sebuah mimpi buruk? Entah bagaimana, bocah itu berhasil membujuk Negara Api untuk membawanya pergi dengan syarat desa kami dibiarkan aman. Hal terakhir yang aku lihat sebelum kapal itu akhirnya meninggalkan kami adalah luka di wajah sang Pangeran ketika dia berbalik menjauhi kami.
Beberapa tahun kemudian, aku melihat kembali luka itu. Masih aku ingat betapa pasrahnya aku merasa ketika terakhir kali dia ada di hadapanku. Sekarang, keadaan berbeda.
"Fire Lord Zuko, selamat datang ke kediaman sederhana kami di Kutub Selatan," ujarku seraya memberikan tanganku. Disambutnya dengan jabatan yang hangat, "Terima kasih, Ketua Suku."
Aku mengangguk, kemudian menjabat tangan yang lain. "Terima kasih atas kedatangan Anda, Avatar Aang."
Dia membalasnya dengan senyuman yang lebar. Dia mungkin tidak mengingat aku, tapi seringai itu tidak pernah aku lupakan. Sulit dipercaya, tapi bocah botak inilah yang berhasil membuat dunia dari mimpi buruk menjadi kenyataan yang indah, dibantu oleh pemilik luka di wajah kirinya yang kini menjadi salah satu pemimpin paling bijaksana yang pernah hidup.
Gila. Ini semua dapat terjadi gara-gara suatu hari Katara dan Sokka menemukannya terperangkap di bongkahan es berumur satu abad. Aku bergidik membayangkan bagaimana jadinya kehidupan sekarang jika mereka tidak pernah menemukan Aang...
Ah, sudah, jangan dipikirkan. Tidak ada waktu untuk itu. Sekarang aku harus menjamu sang Avatar dan Fire Lord dan berbincang tentang perdamaian yang akhirnya kami semua dapatkan.
Kamis, 21 Juni 2018
Tatih Empat Kaki Mungil di Rimba Raksasa
Aw. Aw. Aw.
Itu doang yang kepikiran di otak aku tiap aku jalan. Abis gimana, sakit. Apes bangetlah kemaren teh. Niatnya tuh cuma tiduran bentar gara-gara panas banget kan ya, tau-tau ada kaki raksasa yang enak banget nginjek kaki aku.
Sakit sih, tapi lebih sakit lagi waktu liat raksasanya tuh pura-pura nggak sadar barusan dia ngapain. Nggak mungkin banget nggak kerasa kalo dia hampir matahin tulang seekor makhluk hidup!
Aku masih inget rupa raksasanya. Rasanya pengen cakar-cakar itu idungnya, tapi kemaren nggak bisa jalan banget, jadi sekarang baru mau aku jalanin misi balas dendamnya. Makanya mau sakitnya kayak apa pun, aku tetep nyoba jalan pelan-pelan di tempat yang becek, bau, dan penuh banget sama spesies kejam itu.
"Ih Mamah liat ada kucing!" kata anak raksasa yang ada di depan aku, ingusnya meler melambai dari idungnya.
"Awas geuleuh kotor, nanti kamu sakit ih!" kata Mamah Raksasanya. Terus dia nendang aku masa! Anjir salah aing naooon? Ngeganggu juga nggak, minta dikasih makan juga nggak, literally cuma lagi jalan! Parah sih ini kaki nyut-nyutannya makin kerasa. Belom sempet aku ngapa-ngapain, Mamah Raksasa dan Anak Raksasa itu ngambil keresek item dari Raksasa Warung, ngasih kertas lecek tiga lembar, terus pergi. Keuheul.
Pas sakitnya udah mulai bisa ditoleransi, aku jalan lagi. Tapi naha dingin pisan ya? Oh, ada air turun dari langit. Anjir ujan. Aku cepet-cepet nyari tempat neduh. Tapi jalan aku ga bisa dicepetin da nyeri, jadi sekarang badan aku basah kuyup.
Dingin banget ini sumpah, aku ngegigil aja ga bisa ngapa-ngapain lagi. Aku liat-liat sekitar nggak ada kucing yang bisa aku ajak temenan dan pelukan biar nggak dingin-dingin banget. Aduuuh dingin banget ga tahan, bulu-bulu aku berat banget kayak waktu aku ga sengaja jatuh ke sungai yang kotor bulan lalu.
Ujan deras gini wajar aja sih nggak ada makhluk yang berkeliaran di sekitar sini. Aktivitas para raksasa di tempat mereka berkumpul nukerin kertas lecek sama barang-barang itu juga jadi kehambat. Aku diem aja di bawah pohon yang lumayan gede, sebisa mungkin ngeringkuk biar anget dan nggak makin kebasahan air ujan, ngegigil kayak cuma itu doang yang aku tau.
Mata aku berat banget. Capeeek pisan rasanya badan ini teh. Tapi aku ga boleh tidur, nanti raksasanya makin jauh nggak ketemu-ketemu, gimana mau balas dendam? Tapi mata ini berat banget euy... Berat...
Eh tapi terus kuping aku naik pas denger ada yang ngeong-ngeong. Kepala aku ngedongak, mata aku sibuk nyari-nyari sumber suaranya. Oh, ada kucing lagi rupanya, dia lagi digendong sama raksasa. Enak ya kayaknya didekap gitu, anget. Raksasanya bawa alat penangkal air pula, jadi ga akan kebasahan walaupun jalan di bawah ujan sekalipun.
"Mamah makasih ya beliin aku kuciiing..." Kata raksasa yang lebih kecil.
"Iya sama-sama, dijaga ya kucingnya, disayang," kata raksasa yang lebih gede.
Eh bentar, naha suaranya asa kenal? Pas aku liat jelas-jelas... Oh iyalah anjir itu raksasa yang kemaren nginjek kaki aku!!! Jantung aku langsung berdebar-debar, badan aku langsung pengen meluncur ke muka si raksasa terus cakar-cakar idungnya. Si anjir bedanya aing sama kucing yang ada di tangannya itu apa??? Gara-gara aing lahir di deket solokan terus kucing itu lahirnya di bawah atap nasib kita mesti beda pisan? Aing ga pantes disayang-sayang?
Ini hati udah siap banget namatin misi balas dendam, tapi sumpah badannya lemes banget... Bulu-bulu aku rasanya berat banget, kayak lebih berat dari tadi. Apalagi mata... Duh... Ga bisa ditahan... Terus mata aku merem, ga bisa dibuka. Yang bisa aku liat cuma item doang. Tapi ya udah... Seenggaknya badan aku udah nggak berat lagi.
Itu doang yang kepikiran di otak aku tiap aku jalan. Abis gimana, sakit. Apes bangetlah kemaren teh. Niatnya tuh cuma tiduran bentar gara-gara panas banget kan ya, tau-tau ada kaki raksasa yang enak banget nginjek kaki aku.
Sakit sih, tapi lebih sakit lagi waktu liat raksasanya tuh pura-pura nggak sadar barusan dia ngapain. Nggak mungkin banget nggak kerasa kalo dia hampir matahin tulang seekor makhluk hidup!
Aku masih inget rupa raksasanya. Rasanya pengen cakar-cakar itu idungnya, tapi kemaren nggak bisa jalan banget, jadi sekarang baru mau aku jalanin misi balas dendamnya. Makanya mau sakitnya kayak apa pun, aku tetep nyoba jalan pelan-pelan di tempat yang becek, bau, dan penuh banget sama spesies kejam itu.
"Ih Mamah liat ada kucing!" kata anak raksasa yang ada di depan aku, ingusnya meler melambai dari idungnya.
"Awas geuleuh kotor, nanti kamu sakit ih!" kata Mamah Raksasanya. Terus dia nendang aku masa! Anjir salah aing naooon? Ngeganggu juga nggak, minta dikasih makan juga nggak, literally cuma lagi jalan! Parah sih ini kaki nyut-nyutannya makin kerasa. Belom sempet aku ngapa-ngapain, Mamah Raksasa dan Anak Raksasa itu ngambil keresek item dari Raksasa Warung, ngasih kertas lecek tiga lembar, terus pergi. Keuheul.
Pas sakitnya udah mulai bisa ditoleransi, aku jalan lagi. Tapi naha dingin pisan ya? Oh, ada air turun dari langit. Anjir ujan. Aku cepet-cepet nyari tempat neduh. Tapi jalan aku ga bisa dicepetin da nyeri, jadi sekarang badan aku basah kuyup.
Dingin banget ini sumpah, aku ngegigil aja ga bisa ngapa-ngapain lagi. Aku liat-liat sekitar nggak ada kucing yang bisa aku ajak temenan dan pelukan biar nggak dingin-dingin banget. Aduuuh dingin banget ga tahan, bulu-bulu aku berat banget kayak waktu aku ga sengaja jatuh ke sungai yang kotor bulan lalu.
Ujan deras gini wajar aja sih nggak ada makhluk yang berkeliaran di sekitar sini. Aktivitas para raksasa di tempat mereka berkumpul nukerin kertas lecek sama barang-barang itu juga jadi kehambat. Aku diem aja di bawah pohon yang lumayan gede, sebisa mungkin ngeringkuk biar anget dan nggak makin kebasahan air ujan, ngegigil kayak cuma itu doang yang aku tau.
Mata aku berat banget. Capeeek pisan rasanya badan ini teh. Tapi aku ga boleh tidur, nanti raksasanya makin jauh nggak ketemu-ketemu, gimana mau balas dendam? Tapi mata ini berat banget euy... Berat...
Eh tapi terus kuping aku naik pas denger ada yang ngeong-ngeong. Kepala aku ngedongak, mata aku sibuk nyari-nyari sumber suaranya. Oh, ada kucing lagi rupanya, dia lagi digendong sama raksasa. Enak ya kayaknya didekap gitu, anget. Raksasanya bawa alat penangkal air pula, jadi ga akan kebasahan walaupun jalan di bawah ujan sekalipun.
"Mamah makasih ya beliin aku kuciiing..." Kata raksasa yang lebih kecil.
"Iya sama-sama, dijaga ya kucingnya, disayang," kata raksasa yang lebih gede.
Eh bentar, naha suaranya asa kenal? Pas aku liat jelas-jelas... Oh iyalah anjir itu raksasa yang kemaren nginjek kaki aku!!! Jantung aku langsung berdebar-debar, badan aku langsung pengen meluncur ke muka si raksasa terus cakar-cakar idungnya. Si anjir bedanya aing sama kucing yang ada di tangannya itu apa??? Gara-gara aing lahir di deket solokan terus kucing itu lahirnya di bawah atap nasib kita mesti beda pisan? Aing ga pantes disayang-sayang?
Ini hati udah siap banget namatin misi balas dendam, tapi sumpah badannya lemes banget... Bulu-bulu aku rasanya berat banget, kayak lebih berat dari tadi. Apalagi mata... Duh... Ga bisa ditahan... Terus mata aku merem, ga bisa dibuka. Yang bisa aku liat cuma item doang. Tapi ya udah... Seenggaknya badan aku udah nggak berat lagi.
Labels:
Bahasa Indonesia,
Couchsurfing Writers Club,
CSWC
Kamis, 24 Mei 2018
Tidak Gagal Malam Mingguan!
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Jam 3 sore.
Hm. Saya masih duduk di kursi di depan komputer. Ngapain? Ya gini aja, kegiatan anak millennial yang belakangan nular ke generasi sebelum dan setelah: scroll timeline Instagram.
Saya nggak tahu udah berapa lama saya melangsungkan kegiatan ini. Dari tadi saya udah liat banyak banget post temen-temen. Ada yang post foto lagi jalan-jalan di Yogya, ada yang lagi makan di Bali, ada yang lagi main sama keponakan, ada juga yang post foto makanan.
Dari nasi goreng kambing, es kepal Milo, sampe chicken mozzarella steak dan caviar. Lengkap banget.
Saya liat post teenage crush saya waktu SMA: dia sama suami barunya lagi honeymoon di Swedia. Waw. Fotonya keren banget, lagi. Iseng, saya kasih komentar: "Asik banget euy, di Swedia. Salam buat Ikea meatballs, ya!"
Hehehe. Jadi pengen Ikea meatballs. Ketika saya lagi mikirin bola-bola daging, dateng komentar balasan darinya. "Udah disalamin, tuh. Kamu malam mingguan ngapain?"
Hmmmmmmmmmmmmmmm. Sebelum ini saya nggak pernah mikirin tentang malam mingguan, sih. Tapi kok agak kentang ya kalo saya bilang saya di kamar aja? Ih, gengsi meureun.
Kalo gitu, saya pergi ajalah biar bisa bales saya juga lagi malam mingguan. Tapi ke mana ya? Sama siapa? Coba saya liat kontak saya dulu.
Mega, temen kuliah yang juga sekarang kerja di Bandung, bisa jadi pilihan nih. Coba saya tanya dia mau saya ajak pergi ga malam ini. Wah, nggak bisa katanya, lagi kedatangan saudara dari Merauke.
Oke, saya coba Giga deh, temen komunitas jalan kaki yang sebenernya udah jarang ketemu. "Hai, Giga! Apa kabar? Lama banget ya nggak ketemu. Catch up yuk nanti malem di Cihampelas!" Saya agak berharap banyak sih karena anak ini biasanya selalu bilang oke kalo saya ajak jalan, tapi ternyata dia lagi dinas ke Subang untuk kerjaannya.
Waduh, saya mati gaya. Gimana ya? Saya udah nggak punya temen lagi nih! Coba saya buka Tinder. Siapa aja boleh deh, yang penting saya nggak gagal malam Mingguan!
Yang pertama ada bapak-bapak umur 50-an yang ngaku-ngaku masih 30 dan bujang. Ih maaf, saya belum butuh sugar daddy. Yang kedua ada mas-mas skater yang fotonya keren juga. Boleh, nih. Saya sapa ah. "Halo!" Nggak lama kemudian dateng balesan, "Hai! My girlfriend and I are looking for a partner for a threesome. Are you interested?"
Block, block, block.
Duh gimana ya? Ini udah jam 8 malem, udah 5 jam sejak mantan gebetan saya nanya saya malem mingguan ngapain. Akhirnya saya nyerah deh. Emang bukan kebiasaan saya juga malem Mingguan keluar kamar. Itu gara-gara saya introvert atau emang pemalas aja ya? Ga tau deh.
Yang kelas saya, eh, yang jelas saya ngerasa defeated bangetlah pas akhirnya bales, "Nggak ke mana-mana, di kamar aja."
Ah jadi sedih. Saya suka iri sih memang kalo liat post orang lagi bersenang-senang. Tapi ya gitu aja, cuma sampe tahap iri terus nggak pernah nyobain untuk keluar karena males. Ya udahlah, terima aja diri begini.
Nggak lama kemudian, dateng lagi balasan dari doi. "Enak atuh ya, bisa istirahat, punya me time. Aku mah susah banget punya waktu sendirian, apalagi semaleman penuh. Have fun ya!"
Oh. Bener juga ya. Saya nggak pernah keluar juga salah satu faktornya ya itu, karena capek semingguan kerja terus. Paling asik itu ketika bisa bangun telat karena nggak mesti mikirin kerjaan dan kantor.
Oke, mood saya jadi bagus lagi. Malem mingguan teh nggak harus keluar, kan? Nonton Youtube, dengerin musik, atau baca buku juga malem mingguan. Hehehe. Saya senyum aja sambil bales komentar gebetan, "Thank you ya. I will have fun. Kamu juga ya!"
Saya matiin HP saya, terus saya ambil buku yang udah lama pengen saya baca tapi belom sempet. Selamat malam Minggu!
Jam 3 sore.
Hm. Saya masih duduk di kursi di depan komputer. Ngapain? Ya gini aja, kegiatan anak millennial yang belakangan nular ke generasi sebelum dan setelah: scroll timeline Instagram.
Saya nggak tahu udah berapa lama saya melangsungkan kegiatan ini. Dari tadi saya udah liat banyak banget post temen-temen. Ada yang post foto lagi jalan-jalan di Yogya, ada yang lagi makan di Bali, ada yang lagi main sama keponakan, ada juga yang post foto makanan.
Dari nasi goreng kambing, es kepal Milo, sampe chicken mozzarella steak dan caviar. Lengkap banget.
Saya liat post teenage crush saya waktu SMA: dia sama suami barunya lagi honeymoon di Swedia. Waw. Fotonya keren banget, lagi. Iseng, saya kasih komentar: "Asik banget euy, di Swedia. Salam buat Ikea meatballs, ya!"
Hehehe. Jadi pengen Ikea meatballs. Ketika saya lagi mikirin bola-bola daging, dateng komentar balasan darinya. "Udah disalamin, tuh. Kamu malam mingguan ngapain?"
Hmmmmmmmmmmmmmmm. Sebelum ini saya nggak pernah mikirin tentang malam mingguan, sih. Tapi kok agak kentang ya kalo saya bilang saya di kamar aja? Ih, gengsi meureun.
Kalo gitu, saya pergi ajalah biar bisa bales saya juga lagi malam mingguan. Tapi ke mana ya? Sama siapa? Coba saya liat kontak saya dulu.
Mega, temen kuliah yang juga sekarang kerja di Bandung, bisa jadi pilihan nih. Coba saya tanya dia mau saya ajak pergi ga malam ini. Wah, nggak bisa katanya, lagi kedatangan saudara dari Merauke.
Oke, saya coba Giga deh, temen komunitas jalan kaki yang sebenernya udah jarang ketemu. "Hai, Giga! Apa kabar? Lama banget ya nggak ketemu. Catch up yuk nanti malem di Cihampelas!" Saya agak berharap banyak sih karena anak ini biasanya selalu bilang oke kalo saya ajak jalan, tapi ternyata dia lagi dinas ke Subang untuk kerjaannya.
Waduh, saya mati gaya. Gimana ya? Saya udah nggak punya temen lagi nih! Coba saya buka Tinder. Siapa aja boleh deh, yang penting saya nggak gagal malam Mingguan!
Yang pertama ada bapak-bapak umur 50-an yang ngaku-ngaku masih 30 dan bujang. Ih maaf, saya belum butuh sugar daddy. Yang kedua ada mas-mas skater yang fotonya keren juga. Boleh, nih. Saya sapa ah. "Halo!" Nggak lama kemudian dateng balesan, "Hai! My girlfriend and I are looking for a partner for a threesome. Are you interested?"
Block, block, block.
Duh gimana ya? Ini udah jam 8 malem, udah 5 jam sejak mantan gebetan saya nanya saya malem mingguan ngapain. Akhirnya saya nyerah deh. Emang bukan kebiasaan saya juga malem Mingguan keluar kamar. Itu gara-gara saya introvert atau emang pemalas aja ya? Ga tau deh.
Yang kelas saya, eh, yang jelas saya ngerasa defeated bangetlah pas akhirnya bales, "Nggak ke mana-mana, di kamar aja."
Ah jadi sedih. Saya suka iri sih memang kalo liat post orang lagi bersenang-senang. Tapi ya gitu aja, cuma sampe tahap iri terus nggak pernah nyobain untuk keluar karena males. Ya udahlah, terima aja diri begini.
Nggak lama kemudian, dateng lagi balasan dari doi. "Enak atuh ya, bisa istirahat, punya me time. Aku mah susah banget punya waktu sendirian, apalagi semaleman penuh. Have fun ya!"
Oh. Bener juga ya. Saya nggak pernah keluar juga salah satu faktornya ya itu, karena capek semingguan kerja terus. Paling asik itu ketika bisa bangun telat karena nggak mesti mikirin kerjaan dan kantor.
Oke, mood saya jadi bagus lagi. Malem mingguan teh nggak harus keluar, kan? Nonton Youtube, dengerin musik, atau baca buku juga malem mingguan. Hehehe. Saya senyum aja sambil bales komentar gebetan, "Thank you ya. I will have fun. Kamu juga ya!"
Saya matiin HP saya, terus saya ambil buku yang udah lama pengen saya baca tapi belom sempet. Selamat malam Minggu!
Labels:
Bahasa Indonesia,
Couchsurfing Writers Club,
CSWC
Minggu, 29 Oktober 2017
Untitled
I wrote this story during Couchsurfing Writers' Club Bandung meeting on Thursday, October 26th, 2017. The host, Abi, chose quarter-life crisis as the theme. Here is what I managed to jot down in 30 or so minutes:
When I open my eyes this morning, I find myself staring at an unfamiliar ceiling.
Hm?
I blink and I blink, but I still don't recognize the white plafond.
I get up, and scan the entire room: it's not mine.
It's not the room I grew up in with yellow walls and pictures of my favorite cartoon characters decorating it, keeping me company on nights of thunderstorms or afternoons after school.
This room has white walls instead, and a single clock in the middle of one. Under that clock is a mirror. I walk towards it.
I look in the mirror, and the woman inside stares back at me.
Who are you? I ask her.
She doesn't answer.
"Kaaak!" I hear my mom calling me. Finally! Something I recognize!
I get out of the room, finding my legs lightly jogging downstairs, excited at the thought of being with someone I actually know. Someone who actually knows me.
"Have you just woken up? You're going to be late to work!"
I stop dead. I look at her, and I see my mom. But something is different about her. Something that I can't quite point out...
"Yes," I hear a voice from inside my head. "I'm gonna get ready for work now."
And I see her. The woman from the mirror walks right past me from behind, gives my mother a hug, and goes to take a shower.
I look down at my hands. They're there, but it feels almost as if I can look through them.
"Mom?" I call her out, but she doesn't respond. Her eyes are still glued at the little device she is holding.
"Mom, I'm right here." Still no response. She is still watching a video of someone dressed in all white, spewing out contradictory words that she's listening to so intently.
I don't know how much time has passed with me just trying to figure out what's happening. The next thing I know is the woman from earlier emerges from another room, dressed in professional clothes with her face made up.
She kisses my mom on her cheek, and brings her sling bag out. I chase her. "Wait! Who are you? Why do you live in my house?"
She turns around and looks at me. "Stop living in the past. Wake up."
"What do you mean?"
"Wake up," she just says. "Wake up."
And then I open my eyes.
The white plafond I stare at is quiet as usual. I get up, scanning the room with white walls and the clock and the mirror.
I go towards the mirror, and stare at the reflection.
"Good, you've woken up," she says. "You can't be late for your first day of work."
When I open my eyes this morning, I find myself staring at an unfamiliar ceiling.
Hm?
I blink and I blink, but I still don't recognize the white plafond.
I get up, and scan the entire room: it's not mine.
It's not the room I grew up in with yellow walls and pictures of my favorite cartoon characters decorating it, keeping me company on nights of thunderstorms or afternoons after school.
This room has white walls instead, and a single clock in the middle of one. Under that clock is a mirror. I walk towards it.
I look in the mirror, and the woman inside stares back at me.
Who are you? I ask her.
She doesn't answer.
"Kaaak!" I hear my mom calling me. Finally! Something I recognize!
I get out of the room, finding my legs lightly jogging downstairs, excited at the thought of being with someone I actually know. Someone who actually knows me.
"Have you just woken up? You're going to be late to work!"
I stop dead. I look at her, and I see my mom. But something is different about her. Something that I can't quite point out...
"Yes," I hear a voice from inside my head. "I'm gonna get ready for work now."
And I see her. The woman from the mirror walks right past me from behind, gives my mother a hug, and goes to take a shower.
I look down at my hands. They're there, but it feels almost as if I can look through them.
"Mom?" I call her out, but she doesn't respond. Her eyes are still glued at the little device she is holding.
"Mom, I'm right here." Still no response. She is still watching a video of someone dressed in all white, spewing out contradictory words that she's listening to so intently.
I don't know how much time has passed with me just trying to figure out what's happening. The next thing I know is the woman from earlier emerges from another room, dressed in professional clothes with her face made up.
She kisses my mom on her cheek, and brings her sling bag out. I chase her. "Wait! Who are you? Why do you live in my house?"
She turns around and looks at me. "Stop living in the past. Wake up."
"What do you mean?"
"Wake up," she just says. "Wake up."
And then I open my eyes.
The white plafond I stare at is quiet as usual. I get up, scanning the room with white walls and the clock and the mirror.
I go towards the mirror, and stare at the reflection.
"Good, you've woken up," she says. "You can't be late for your first day of work."
Labels:
Couchsurfing Writers Club,
CSWC,
English,
quarter-life crisis
Kamis, 19 Oktober 2017
Sweet Torture
![]() |
| Image taken from driscolls.com |
It all started with the Korean drama I watched last night. There was nothing special about that episode, except for when the heroine was shown eating a strawberry shortcake. That scene wasn't even an important part of the story, but the way the cake looked, how soft and fluffy, made me want it in front of me right that second.
The way the main character sliced it with her fork, the way it crumbled, the way the cream kind of overflowed a little bit... and the way she brought it into her mouth, how she first bit into it, when she tasted the sweetness... It was almost as if I was the one eating it.
Almost! As the wise and almighty Ariana Grande once said, "Almost is never enough." So I turned off the TV, walked into my room, laid on my bed, and told myself that I would buy it the next day.
Which is today, and so far I have eight hours of work to go through and absolutely zero strawberry shortcake in my hands. It's fine, it's fine. My colleagues and I usually order Go-Food to our office for lunch, so I wonder if I can get a strawberry shortcake this time. I scroll and I scroll, spending each minute of my break time dedicated to searching for the one thing that will satiate my craving right now.
"Git!" I hear someone call my name from behind me. I turn around and find my boss standing near my desk. "I need your help translating this part, can you do it now?"
"But I haven't had lunch," I say.
To which he answers, "Oh, it's okay. I've already bought lunch for everyone in the translators' room. Nasi goreng!"
Ugh, great. I smile, and proceed to follow him to the other room. It's okay. I'll get my strawberry shortcake after work is done.
Five hours later, I find myself in front of the cake shop near my office. I walk in giddily, feeling like I'll finally get what I've always wanted for the whole day. There is only one person queueing in front of the cashier. Nice, I don't have to wait too long!
The cashier receives the cash and gives a white box to the customer. "Here's your strawberry shortcake. Thank you for your patronage, please come again!" After the customer in front of me leaves, she looks at me and smiles. "Good evening, Miss. How can I help you?"
"I'd like one strawberry shortcake, please," I say, pretending to be calm and not let my excitement show. This is it! I'll finally get my cake!!!
"I'm so sorry Miss, that was the last strawberry shortcake we had," says the dream-crushing cashier. "May I offer you something else? A cheesecake, maybe?"
'No, you may not!' is what I'm thinking, but instead I just shake my head and get out of the shop. It's fine. It's probably not my day.
I mean, I know it's just a random craving for a cake, but somehow it's getting me so down. I need someone to cheer me up. So I take my phone and dial my best friend's number. As soon as I hear her say hello, I ask her, "Are you home? I need an immediate mood booster."
"Oh, you call at the right time! Yeah, come here, I'm home. My brother just came back from work."
"So?" I see no relevance in her brother being home with her ability to cheer me up. But her next words prove me wrong. Dead wrong.
"Yeah, he just randomly brought home some strawberry shortcake."
I hang up and order a Gojek ride straight away. Strawberry shortcake, here I come!
Labels:
Couchsurfing Writers Club,
CSWC,
dessert,
English,
kilig,
Strawberry Shortcake
Kamis, 24 Agustus 2017
How My Life Ends
Couchsurfing Writers Club
FB & Co, Bandung
August 24, 2017
Theme: Oxymoron
I don't know what time it is. Midnight? Past midnight? Maybe even just a little over 8 p.m.? Never mind that. It doesn't matter. What matters is what is standing before me.
Who is standing before me.
I didn't expect to find something - someone - quite like her tonight. I mean, it's a graveyard - I don't generally expect to see anything other than lonely soil filled with dead memories when I come here once a week just to be alone.
Tonight, though, proves to be different.
I was just about to sit under my tree - a big cypress located conveniently in the center of the whole cemetery - when I caught a glimpse of her.
I was scared, at first, but I tried not to show it. "Act naturally," I said to myself, "don't be afraid. There's nothing to be afraid of." Either I convinced myself with that, or I faked bravery to prove to no one in particular that I am no coward, I tried to focus on what I thought I saw.
And there she was. Standing, right where I see her now.
I don't know what it is - but something about her is painfully beautiful. Is it her hair? No, she barely has any more hair. Her smile? She isn't even smiling. But this is what I know: her beauty will be the death of me... And I'm okay with that.
I say nothing. She says nothing. Can she say anything with her ripped lips? I don't know. What I do know is that this silence is deafening. I need to do something... Anything. I need to know her name.
So I ask her, "What's your name?"
But she doesn't answer. Maybe she can't answer. She just stands there staring at me with her left eye - the place where her right eye should be is left with a gaping hole. Huh. I didn't notice that before.
The night gets deeper and I can't take it anymore. I know what she wants. I know what she wants, and she can take it. I know how stupid that is, but I don't care. It's my only choice to be with her, even for a second.
So I walk, one step after another, towards her. She opens her arms invitingly. I submit, giving her a warm embrace, soaking in the fact that we're alone together in the universe for this moment, and for this moment only.
It's perfect. It's everything I never knew I needed.
She then opens her mouth, and proceeds to eat my brains. Yeah, okay. I accept the fact that I'm gonna die being devoured by the walking dead.
FB & Co, Bandung
August 24, 2017
Theme: Oxymoron
I don't know what time it is. Midnight? Past midnight? Maybe even just a little over 8 p.m.? Never mind that. It doesn't matter. What matters is what is standing before me.
Who is standing before me.
I didn't expect to find something - someone - quite like her tonight. I mean, it's a graveyard - I don't generally expect to see anything other than lonely soil filled with dead memories when I come here once a week just to be alone.
Tonight, though, proves to be different.
I was just about to sit under my tree - a big cypress located conveniently in the center of the whole cemetery - when I caught a glimpse of her.
I was scared, at first, but I tried not to show it. "Act naturally," I said to myself, "don't be afraid. There's nothing to be afraid of." Either I convinced myself with that, or I faked bravery to prove to no one in particular that I am no coward, I tried to focus on what I thought I saw.
And there she was. Standing, right where I see her now.
I don't know what it is - but something about her is painfully beautiful. Is it her hair? No, she barely has any more hair. Her smile? She isn't even smiling. But this is what I know: her beauty will be the death of me... And I'm okay with that.
I say nothing. She says nothing. Can she say anything with her ripped lips? I don't know. What I do know is that this silence is deafening. I need to do something... Anything. I need to know her name.
So I ask her, "What's your name?"
But she doesn't answer. Maybe she can't answer. She just stands there staring at me with her left eye - the place where her right eye should be is left with a gaping hole. Huh. I didn't notice that before.
The night gets deeper and I can't take it anymore. I know what she wants. I know what she wants, and she can take it. I know how stupid that is, but I don't care. It's my only choice to be with her, even for a second.
So I walk, one step after another, towards her. She opens her arms invitingly. I submit, giving her a warm embrace, soaking in the fact that we're alone together in the universe for this moment, and for this moment only.
It's perfect. It's everything I never knew I needed.
She then opens her mouth, and proceeds to eat my brains. Yeah, okay. I accept the fact that I'm gonna die being devoured by the walking dead.
Labels:
Couchsurfing Writers Club,
CSWC,
English,
fiction,
oxymoron,
the walking dead,
zombie,
zombies
Jumat, 18 Agustus 2017
Antara Hitam dan Putih
Putih.
Hitam.
Putih.
Hitam.
Putih.
Hitam.
Putih adalah kita, kau bilang.
Putih adalah kita, dan hitam adalah mereka.
Hitam adalah mereka dan bukan kita.
Tidak pernah kita.
Tidak akan pernah kita.
Hitam tidak pernah putih, dan putih tidak sudi menjadi hitam.
Karena putih di atas hitam,
Dan hitam tenggelam di dasar kolam
Jauh, jauh, jauh di bawah
Tinggalkan
Lupakan
Hitam
Abu-abu? Tanyaku.
Tidak! Jawabmu.Putih.
Hitam.
Putih.
Hitam.
Putih.
Hitam.
Hal lainnya tidak penting, katamu.
Pintu.
Pintu cokelat.
Aku pamit, pergi sebentar.
Kau mengangguk.
Aku buka pintu cokelat itu.
Kemudian merah!
Ungu!
Hijau!
Dan warna-warna yang sebelumnya tidak aku tahu nyata
Berlarian, berkeliaran bebas
Menggenggam tanganku,
Memeluk tubuhku,
Menatap mataku,
Dan mengenaliku.
Pintu.
Pintu cokelat.
Aku mengucap salam, tanda kembali.
Kau menyambut
Aku kembali ke hadapanmu.
Merah, ku bilang.
Ungu! Hijau!
Tapi senyum yang kucari tak bertengger di wajahmu.
Geleng geleng geleng kepalamu.
Putih.
Hitam.
Putih.
Hitam.
Putih.
Hitam.
Kau bilang,
Putih adalah kita, dan hitam adalah mereka.
Tidak ada merah, atau ungu, atau hijau.
Putih adalah aku, dan aku tidak sudi menjadi hitam.
Aku tidak sudi kau menjadi hitam.
Maka aku mengangguk, lalu berkata,
"Putih."
Lalu kau mengangguk, dan berlalu.
Tak kauperhatikan merah, ungu, dan hijau yang kujaga di hatiku.
Labels:
Bahasa Indonesia,
Couchsurfing Writers Club,
CSWC,
Puisi
Kamis, 03 Agustus 2017
The Fake Englishman
Couchsurfing Writers Club
Kopi Popi, Bandung
August 3, 2017
Theme: Einstein's Riddle
It's a nice evening. The man in the red house sits on a chair on his front porch, enjoying the view that the sunset offers him tonight.
The whispers of the wind chill him, so he introduces the warmth of his Pall Mall to his lips. His birds chirp a song of disapproval that he doesn't listen to. "Don't smoke," they say, "free us!" In vain is their effort, for the man doesn't even move his head to acknowledge what is being said from inside the cage.
It's just another night for him.
A shadow approaches from the right. His neighbor, the Dane. "Hey, Daniel," she walks toward him.
He smiles at her. "Good evening, Abby. What have you got there?"
She gives him the small blue bag she's been carrying. "A little something from my trip to your homeland," she says. "I know it's your favorite thing."
They nod as she says good bye. As soon as she disappears from his sight, he opens the gift he has just been given. The familiar smell annoys his nose. He sees what's inside.
It's tea.
He closes the bag immediately and glances at a glass full of milk sitting on the table just beside his chair.
He sighs, full with relief. No one has found out that he doesn't like tea yet. He isn't ready to be called The Fake Englishman yet again.
Kopi Popi, Bandung
August 3, 2017
Theme: Einstein's Riddle
It's a nice evening. The man in the red house sits on a chair on his front porch, enjoying the view that the sunset offers him tonight.
The whispers of the wind chill him, so he introduces the warmth of his Pall Mall to his lips. His birds chirp a song of disapproval that he doesn't listen to. "Don't smoke," they say, "free us!" In vain is their effort, for the man doesn't even move his head to acknowledge what is being said from inside the cage.
It's just another night for him.
A shadow approaches from the right. His neighbor, the Dane. "Hey, Daniel," she walks toward him.
He smiles at her. "Good evening, Abby. What have you got there?"
She gives him the small blue bag she's been carrying. "A little something from my trip to your homeland," she says. "I know it's your favorite thing."
They nod as she says good bye. As soon as she disappears from his sight, he opens the gift he has just been given. The familiar smell annoys his nose. He sees what's inside.
It's tea.
He closes the bag immediately and glances at a glass full of milk sitting on the table just beside his chair.
He sighs, full with relief. No one has found out that he doesn't like tea yet. He isn't ready to be called The Fake Englishman yet again.
Labels:
Couchsurfing Writers Club,
CSWC,
Einstein's riddle,
English,
fiction,
five houses
Jumat, 04 Maret 2016
CSWC: I Swear I Wasn't on Drugs, I Think
| Image taken from usgennet.org |
This is the third time I'm feeling watched.
Yes, I'm aware that I'm alone. In fact, I'm 150% sure I'm alone. I moved to this sorry excuse of a house exactly two days ago, if only to escape from the mundane humdrum of my utterly unexciting hometown. Oh, also to get away from my parents, but obviously I told them nothing about it. What I did tell them is that it's been ages since Grandpa died, and this house is probably still worth a lot if someone actually takes care of it, and it's kind of near my college so I don't need to pay a whole lot of money for a room that comes with a crazy roommate.
After weeks of my skillful persuasion, which included approximately 1000 dishes washed by my hands to let my mom watch some pathetic soap opera that she doesn't even pay attention to, my parents finally let me, their one and only daughter, to live alone.
Actually no, not alone. My best friend Bombay (who is also a cat) is living with me.
So maybe I shouldn't say that I'm 150% sure that I'm alone since Bombay is probably somewhere around the living room taking the third nap of the day, but still. I'm used to her judgmental stares whenever I eat too much or sleep in, so I know this is definitely not one of those.
It feels creepily like I'm being watched... Protectively. Not by anyone, I don't think. There may be some weird and perverted dudes and dudettes around this area, but it's practically midday and everyone is either out there working and living their lives, or sleeping their lives away.
I look around me. Nothing's unusual in this kitchen. There's the old stove, the old fridge, the old table and chairs, and... The old picture frame on the wall.
Hmm. That's weird. I don't remember noticing this picture frame before. I step forward a few steps, and look at it closely. The weird feeling gets stronger. What is it about this picture? There's nothing extraordinarily extraordinary about it. It's just a photograph of some house.
Eh? Wait a minute. It's a picture of THIS house! But... It looks so... Proper. Like an actual house people would actually live and grow a happy family in, not this horror show with creepy creaks of the floor everytime you walk on it. Whoa. This must have been taken ages ago.
Whoa, okay. I definitely saw something moving on the picture. Fuck. Am I hallucinating? But I haven't even started smoking pot!
Oops, there it is again. Something's definitely wrong with this picture. The grass is swaying like it's windy. What? But it's a picture! Did I move to my dead grandparents' house, or Hogwarts?
I shiver. All of a sudden, I feel some chill. And then it starts: some kind of traditional music is playing. It's faint at first, but it gets louder and louder every second. Shit. Did I make the wrong kind of mushroom sandwich this morning?
Before I can even start to remember where I got the mushrooms from, something even weirder happens. The door opens. Yes, the door of the house in the picture. It opens. Holy fuck.
And something EVEN weirder happens: a woman walks out of the house. Yes a fucking woman fucking walks out of the fucking house in the fucking picture! And she's walking towards me! And she smiles when she sees me! And she waves her hands at me! Holy shit!
Why am I waving back???
"Hello, Mia," she says.
"Hello," I reply, because that's what you say if someone says hello to you, whether they're a real person or drug-induced hallucination.
"Say, do you take sugar with your tea?" she asks.
"Sure," I reply, because people who drink tea without sugar are insane.
She nods, and gives me a cup of tea. Out of nowhere. I don't even know how that works. What I know is, the tea is warm, and the amount of sugar is perfect, and this woman is beautiful, and I am probably a schizophrenic. Damn it, and I'm a Psychology student, too. How fucking ironic.
"Say, Mia, do you miss your Grandpa?" she asks, after calmly sipping her tea.
"Kind of," I say, sipping my tea. It's delicious. I'm delusional. "He was a good grandpa."
She smiles. "That's great to hear. He misses you, too. He's sorry that he can't come to see you now, but he will soon. He told me to give you this," she says, handing something to me.
I look at it. "A button?"
She smiles and nods. She's so beautiful when she smiles. What the hell. For a lady who lives in my imagination, she could be a model. Like, a Revlon model, because damn that face would have been perfect with a dash of red on the lips.
"You be good now, Mia," she says, turning around and returning to the house.
"Wait!" I said. "How did you know my name?"
"Because I gave it to you," she replies. "Nice to finally meet you, my granddaughter."
And then she vanishes into the house. The music stops playing. The grass stops swaying. The weird feeling is gone.
What's not gone is the empty cup of tea in my right hand. Oh, and the button in the left.
"Gah!" I shriek, startled at something tickling my foot. It's Bombay. "Dammit, Bombay. I think I really need to start looking for a pot dealer."
She jumps, and makes some great fuss about my sweater. "What the hell, Bay? What's wrong with you?" I ask her. I mean, I JUST saw my dead grandmother, would it be the end of the world if I heard her reply to me?
I put down the teacup, and look at her quizzically. It's weird, it's like she's pointing at my sweater.
"Oh," I say, looking at it. "It's missing a button."
Langganan:
Postingan (Atom)




