Minggu, 28 Agustus 2011

Halo

Seorang gadis kecil bergaun merah mendekati aku yang meringkuk mungil di sudut sebuah gang yang gelap dan lembap dengan sepatu merahnya yang bersih mengkilap.

"Halo," sapanya.

Aku mendongak untuk melihat wajahnya lebih jelas. Gadis kecil berkuncir dua itu tersenyum dengan manis, memancarkan aura hangat yang bersahabat.

"Bagaimana kabarmu?"

Aku memandang matanya yang tulus.

"Apa kamu sakit?"

Tidak ada tanda-tanda melecehkan yang selalu aku terima dari orang-orang dewasa.

Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari tas kecil merah yang dibawanya sedari tadi. Makanan. "Apa kamu lapar?" Ia mengulurkan sebongkah roti kepadaku.

Aku tidak bereaksi.

Sang gadis kecil mengeluarkan sehelai kertas dari tas mungilnya, meletakkannya di hadapanku, kemudian menjadikannya alas untuk roti yang belum kuterima. Ia tersenyum kembali. "Makanlah," katanya, "semoga kau cepat ceria lagi ya!"

Kemudian ia berbalik untuk memenuhi panggilan ibunya. Aku bisa mendengar apa yang ibunya katakan kepadanya setelah mereka kembali bergandengan tangan dan melanjutkan perjalanan mereka entah ke mana, menyusuri jalanan ramai pasar. "Apa yang kau lakukan barusan? Aku tidak mau melihatmu berbicara kepada monster seperti itu lagi."

"Apa yang Ibu katakan?" Aku bisa mendengar sang gadis kecil bertanya marah. "Dia bukan monster, dia anak kecil biasa seperti aku."

"Tidakkah kau lihat seperti apa rupanya?" Sang ibu menaikkan volume suaranya. "Ia begitu kerdil dan kotor!"

"Ibu," jawab sang gadis kecil, "bahkan aku pun akan terlihat seperti itu tanpa siapapun yang menyayangiku. Karena itu, aku yang akan menyayangi dia. Mulai besok, aku akan membawakannya makanan setiap hari dan bermain bersamanya. Bahkan mungkin membawanya pulang dan memandikannya."

Aku tidak begitu bisa mendengar apa yang ibunya katakan setelah mendengar jawaban anak perempuannya, tapi aku bisa menebak gadis kecil itu tidak akan kembali besok, dan tidak juga minggu depan, bulan depan, atau tahun depan.

Tapi aku sangat berterima kasih kepadanya. Dia orang pertama yang melihatku sebagai manusia biasa. Dan umurnya mungkin tak lebih dari tujuh.

Tidak ada komentar: