Sejak kenal dengannya, aku tidak pernah lagi merasakan sendirian saat malam tiba. Ponselku akan berdering tepat pada pukul 19:00 dan kami akan berbincang hingga kami jatuh tidur. Kadang-kadang, jika beruntung, wajahnya yang masih terlelap akan menjadi hal pertama yang aku lihat setelah cahaya mentari memaksa mataku untuk terbuka.
Aku pikir malam ini tidak akan ada yang berbeda.
Nada dering terdengar dengan jelas dari arah kasur, penanda pukul tujuh telah tiba. Dengan sigap, kumatikan laptop di meja dan terima panggilannya. Sapaan "Halo," yang terdengar dari gawai mungil ini menggelitik hatiku, membentuk sebuah senyuman di wajahku. Kami siap mengawali ritual kami malam ini.
Tapi tiba-tiba, ZIP! Suara manisnya hilang dari telingaku. Tulisan "your internet usage is over the limit" menggantikan tampilan biasanya. Kucoba melanjutkan percakapan tanpa bantuan internet, tapi yang terdengar hanya suara operator yang berkata, "Maaf, pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini."
Aku menepuk keningku keras, mengutuk kebodohanku yang membiarkan pulsaku habis malam ini. Haruskah ini jadi malam pertama yang kami lewati tanpa berbicara ngalor-ngidul?
Oh, tentu tidak.
Segera, aku mengenakan jaket, topi, masker, dan sepatuku. Kuraih helm hitamku dari lemari, kukeluarkan motorku dari garasi, dan kubawa tubuh ini menuju tempatnya. Sejam kemudian, aku mengetuk pintu tempat tinggalnya.
Matanya yang terbelalak melihatku berdiri di depannya membuat perjalanan barusan terasa setimpal. "Kok bisa ada di sini?"
"Iya dong," jawabku dengan cengiran, "when it comes to you, the limit does not exist."
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Kamis, 09 Juli 2020
Kamis, 30 April 2020
Kembali ke Lima Tahun Lalu
Aku merasakan kejanggalan pada tubuhku ketika aku bangun pagi ini. Begitu membuka mata, butuh beberapa detik bagiku untuk sadar bahwa aku tidur di kamarku yang lama. Heran, aku melihat kanan-kiri mencari bibiku yang seharusnya menempati kamar ini. Tidak ada. Aku turun dari kasur, melangkah ke luar kamar untuk mencarinya.
Lho, ruang keluarga pun terlihat tidak biasa. Tata ruangnya kembali seperti beberapa waktu yang lalu. Suasana rumah pun terasa berbeda. Aku bingung, dari segi mana? Ini rumah yang kutinggali, kok. Kenapa rasanya asing?
Suara klak klik klak klik dari lantai dua mengalihkan perhatianku. Aku mendongak, mencoba mencari sumber suara itu dari mezzanine. Kemudian kedua mataku membelalak, mulutku menganga, dan badanku bergetar hebat. Terlihat sosok yang seharusnya tidak mungkin ada di situ.
Aku panik. Apa yang sedang terjadi? Dengan cepat, aku memindai kalender yang berada tepat di belakangku. Astaga, benar dugaanku. Aku sedang bermimpi. Kalender menunjukkan tahun 2015, bukan 2020 seperti ketika aku pergi tidur malam tadi.
Terdiam sejenak, lalu aku memberanikan diri naik tangga. "Jovan!" Kupanggil nama adikku yang sudah lama tidak keluar dari mulutku.
Dia menoleh. Jovan, di hadapanku, dengan headset yang tertempel permanen di telinganya sedang duduk di singgasana berputar warna biru. "Apa?" tanyanya, sedikit ketus. Kalau sudah main DOTA, dia tidak suka diganggu.
Aku diam sebentar, kemudian menggeleng. Dia kembali pada cintanya, sang PC. Aku terduduk di lantai tanpa suara, berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Entah bagaimana, aku sedang kembali ke tahun 2015, setahun sebelum dia meninggalkan kami untuk selamanya. Kenapa?
Tapi kemudian aku menyingkirkan pertanyaan itu. Tidak begitu penting alasan dan caraku kembali ke sini. Sekarang adik bungsuku ada di hadapanku, dan aku memiliki banyak sekali hal yang ingin aku katakan kepadanya. Aku bangkit dan menghampirinya.
"Jo," panggilku lagi, kali ini meletakkan tanganku di bahunya. Ada seribu satu pikiran yang berkecamuk di kepalaku, tapi akhirnya hanya ini yang aku katakan: "Ajarin mainnyalah."
"DOTA?" tanyanya dengan bumbu tawa.
"Iya. Abis aku udah tamat main Skyrim."
Dia mengangkat bahunya sekilas, kemudian bangkit dan memberiku isyarat untuk duduk di kursi yang tadi didudukinya. Dengan gaya khas Jovan, dia mengajariku apa saja yang dia pikir perlu aku tahu pada kali pertamaku memainkan game favoritnya. Sedikit-sedikit kucerna apa yang sedang diajarkannya, kemudian kupraktekkan. Seperti dugaan kami, aku tidak pandai dalam permainan ini.
Tapi tidak apa-apa. Aku tidak mengerti kenapa dan bagaimana aku kembali ke hari ini, bertemunya lagi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku tidur nanti: apakah aku akan bangun di keesokan hari, atau kembali ke 2020 lagi? Aku tidak tahu apakah ada hal yang bisa aku lakukan untuk mengubah kenyataan - untuk tidak membiarkannya mati tahun depan. Yang aku tahu, aku merindukannya, dan jika bermain DOTA adalah satu-satunya jalan agar kami dapat melewati waktu bersama, aku akan menjadi Crystal Maiden atau Omniknight atau apalah itu asalkan aku bisa melewati waktu dengannya.
Lho, ruang keluarga pun terlihat tidak biasa. Tata ruangnya kembali seperti beberapa waktu yang lalu. Suasana rumah pun terasa berbeda. Aku bingung, dari segi mana? Ini rumah yang kutinggali, kok. Kenapa rasanya asing?
Suara klak klik klak klik dari lantai dua mengalihkan perhatianku. Aku mendongak, mencoba mencari sumber suara itu dari mezzanine. Kemudian kedua mataku membelalak, mulutku menganga, dan badanku bergetar hebat. Terlihat sosok yang seharusnya tidak mungkin ada di situ.
Aku panik. Apa yang sedang terjadi? Dengan cepat, aku memindai kalender yang berada tepat di belakangku. Astaga, benar dugaanku. Aku sedang bermimpi. Kalender menunjukkan tahun 2015, bukan 2020 seperti ketika aku pergi tidur malam tadi.
Terdiam sejenak, lalu aku memberanikan diri naik tangga. "Jovan!" Kupanggil nama adikku yang sudah lama tidak keluar dari mulutku.
Dia menoleh. Jovan, di hadapanku, dengan headset yang tertempel permanen di telinganya sedang duduk di singgasana berputar warna biru. "Apa?" tanyanya, sedikit ketus. Kalau sudah main DOTA, dia tidak suka diganggu.
Aku diam sebentar, kemudian menggeleng. Dia kembali pada cintanya, sang PC. Aku terduduk di lantai tanpa suara, berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Entah bagaimana, aku sedang kembali ke tahun 2015, setahun sebelum dia meninggalkan kami untuk selamanya. Kenapa?
Tapi kemudian aku menyingkirkan pertanyaan itu. Tidak begitu penting alasan dan caraku kembali ke sini. Sekarang adik bungsuku ada di hadapanku, dan aku memiliki banyak sekali hal yang ingin aku katakan kepadanya. Aku bangkit dan menghampirinya.
"Jo," panggilku lagi, kali ini meletakkan tanganku di bahunya. Ada seribu satu pikiran yang berkecamuk di kepalaku, tapi akhirnya hanya ini yang aku katakan: "Ajarin mainnyalah."
"DOTA?" tanyanya dengan bumbu tawa.
"Iya. Abis aku udah tamat main Skyrim."
Dia mengangkat bahunya sekilas, kemudian bangkit dan memberiku isyarat untuk duduk di kursi yang tadi didudukinya. Dengan gaya khas Jovan, dia mengajariku apa saja yang dia pikir perlu aku tahu pada kali pertamaku memainkan game favoritnya. Sedikit-sedikit kucerna apa yang sedang diajarkannya, kemudian kupraktekkan. Seperti dugaan kami, aku tidak pandai dalam permainan ini.
Tapi tidak apa-apa. Aku tidak mengerti kenapa dan bagaimana aku kembali ke hari ini, bertemunya lagi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku tidur nanti: apakah aku akan bangun di keesokan hari, atau kembali ke 2020 lagi? Aku tidak tahu apakah ada hal yang bisa aku lakukan untuk mengubah kenyataan - untuk tidak membiarkannya mati tahun depan. Yang aku tahu, aku merindukannya, dan jika bermain DOTA adalah satu-satunya jalan agar kami dapat melewati waktu bersama, aku akan menjadi Crystal Maiden atau Omniknight atau apalah itu asalkan aku bisa melewati waktu dengannya.
Labels:
Bahasa Indonesia,
Couchsurfing Writers Club,
CSWC
Jumat, 24 April 2020
SKRPM versi 3.2: JODOH ATAU BUKAN
"Selamat, Anda telah terpilih menjadi penguji beta SKRPM versi 3.2!"
Mataku mengernyit membaca subject email yang baru saja muncul di layar ponselku. Aku tidak ingat pernah daftar untuk menjadi penguji beta aplikasi apa-apa. Tapi...
Tentu saja aku tahu soal aplikasi ini. Banyak rumor yang beredar mengatakan bahwa aplikasi super ini bisa digunakan untuk melakukan apa saja. Terdengar misterius dan berbahaya? Tentu. Apakah aku akan mencobanya? Sudah pasti.
Setelah menjalani proses registrasi yang lumayan panjang, akhirnya aku dihadapkan pada laman yang menawarkan alat-alat untuk membuat fungsi yang aku inginkan dari aplikasi ini. Dengan keterbatasan kemampuanku ternyata tidak begitu sulit untuk merancang kegunaan yang aku mau.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya kata 'loading...' di layar berubah menjadi 'JODOH ATAU BUKAN? telah dapat digunakan.'
Aku bangkit dari posisi rebahan dengan penuh semangat, kemudian menatap kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja mengubah kehidupan percintaanku. Ku-input data seseorang yang sudah beberapa minggu ini merajai pikiranku.
Ding! Notifikasi datang. Kedua ujung bibirku otomatis turun ketika melihat tulisan "RESULT: UNCLEAR" sebagai hasilnya. Aku menghela napas.
Kumasukkan data beberapa orang yang dulu pernah singgah di hidupku. Semuanya sama: BUKAN JODOH.
Oke. Sekarang kumasukkan data beberapa orang yang pernah menunjukkan ketertarikan terhadapku. Lagi-lagi sama: BUKAN JODOH.
Sekali lagi, deh. Kucoba lagi memasukkan data orang yang pertama, berharap akan ada jawaban yang berbeda.
"RESULT: UNCLEAR"
Refleks, kulempar ponselku ke ujung kasur. Beruntung barangnya tidak jatuh ke lantai, khawatir retak seperti hatiku saat ini. Aplikasi sial. Kenapa tidak langsung tunjukkan saja siapa jodohku?
Aku menutup mata, membayangkan apa yang akan aku lakukan jika aplikasi itu benar-benar bisa memberitahu aku siapa jodohku sebenarnya. Sialnya, aku tidak bisa menghapus bayangan tentangnya dari kepalaku.
Tahu tidak? Peduli setan apa yang aplikasi ini pikir. Sekarang aku hanya akan melakukan apa yang ingin aku lakukan: meneleponnya. Urusan jodoh atau tidak, mungkin bukan itu yang penting. Mungkin yang penting adalah menikmati waktu yang kami miliki bersama sekarang, itu saja.
Kuraih kembali ponselku, dan dengan kekuatan muscle memory, ibu jariku sangat luwes menekan tombol-tombol yang akhirnya menyambungkanku dengannya. Setelah beberapa detik nada sambung berbunyi, jantungku berhenti berdetak sekilas dan kedua ujung bibirku naik tanpa kendali mendengar suaranya yang sangat familier berkata, "Halo?"
Hehe. Rasa ini yang aku cari. Mungkin seharusnya aku tidak mempedulikan soal jodoh saat kami baru saling mengenal. Atau mungkin konsep jodoh itu outdated dan tidak sempurna. Bodo amat. Yang penting sekarang aku ingin berbincang dengannya tentang hari-hari yang akan kami lalui.
Mataku mengernyit membaca subject email yang baru saja muncul di layar ponselku. Aku tidak ingat pernah daftar untuk menjadi penguji beta aplikasi apa-apa. Tapi...
Tentu saja aku tahu soal aplikasi ini. Banyak rumor yang beredar mengatakan bahwa aplikasi super ini bisa digunakan untuk melakukan apa saja. Terdengar misterius dan berbahaya? Tentu. Apakah aku akan mencobanya? Sudah pasti.
Setelah menjalani proses registrasi yang lumayan panjang, akhirnya aku dihadapkan pada laman yang menawarkan alat-alat untuk membuat fungsi yang aku inginkan dari aplikasi ini. Dengan keterbatasan kemampuanku ternyata tidak begitu sulit untuk merancang kegunaan yang aku mau.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya kata 'loading...' di layar berubah menjadi 'JODOH ATAU BUKAN? telah dapat digunakan.'
Aku bangkit dari posisi rebahan dengan penuh semangat, kemudian menatap kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja mengubah kehidupan percintaanku. Ku-input data seseorang yang sudah beberapa minggu ini merajai pikiranku.
Ding! Notifikasi datang. Kedua ujung bibirku otomatis turun ketika melihat tulisan "RESULT: UNCLEAR" sebagai hasilnya. Aku menghela napas.
Kumasukkan data beberapa orang yang dulu pernah singgah di hidupku. Semuanya sama: BUKAN JODOH.
Oke. Sekarang kumasukkan data beberapa orang yang pernah menunjukkan ketertarikan terhadapku. Lagi-lagi sama: BUKAN JODOH.
Sekali lagi, deh. Kucoba lagi memasukkan data orang yang pertama, berharap akan ada jawaban yang berbeda.
"RESULT: UNCLEAR"
Refleks, kulempar ponselku ke ujung kasur. Beruntung barangnya tidak jatuh ke lantai, khawatir retak seperti hatiku saat ini. Aplikasi sial. Kenapa tidak langsung tunjukkan saja siapa jodohku?
Aku menutup mata, membayangkan apa yang akan aku lakukan jika aplikasi itu benar-benar bisa memberitahu aku siapa jodohku sebenarnya. Sialnya, aku tidak bisa menghapus bayangan tentangnya dari kepalaku.
Tahu tidak? Peduli setan apa yang aplikasi ini pikir. Sekarang aku hanya akan melakukan apa yang ingin aku lakukan: meneleponnya. Urusan jodoh atau tidak, mungkin bukan itu yang penting. Mungkin yang penting adalah menikmati waktu yang kami miliki bersama sekarang, itu saja.
Kuraih kembali ponselku, dan dengan kekuatan muscle memory, ibu jariku sangat luwes menekan tombol-tombol yang akhirnya menyambungkanku dengannya. Setelah beberapa detik nada sambung berbunyi, jantungku berhenti berdetak sekilas dan kedua ujung bibirku naik tanpa kendali mendengar suaranya yang sangat familier berkata, "Halo?"
Hehe. Rasa ini yang aku cari. Mungkin seharusnya aku tidak mempedulikan soal jodoh saat kami baru saling mengenal. Atau mungkin konsep jodoh itu outdated dan tidak sempurna. Bodo amat. Yang penting sekarang aku ingin berbincang dengannya tentang hari-hari yang akan kami lalui.
Labels:
Bahasa Indonesia,
Couchsurfing Writers Club,
CSWC
Kamis, 07 Februari 2019
Pidipopop
Bentuknya bulat, warnanya ungu. Di atas tubuhnya bertabur bulatan-bulatan gelap yang berbau.
Tap, tap, tap, didengarnya suara langkah satu demi satu menghampiri dari sisi kiri.
Tanpa tangan atau kaki, dia tidak bisa lari.
Kemudian para pemilik langkah tersebut sampailah di sampingnya, menunduk, dan mulai menjulurkan lidah mereka. Satu, dua, tiga lidah tergantung layu dari mulut-mulut bertaring tajam.
Kemudian, tes.
Badannya mulai dibasahi liur tetes demi tetes seiring dengan berdansanya lidah-lidah itu pada dirinya, dalam upaya untuk meraih makanan yang entah sejak kapan tersaji di atasnya.
Lembab. Becek. Sengit.
Sang mangkok tidak memiliki mata atau kelenjar air mata, juga hati atau emosi, tapi yang ada di pikirannya sekarang adalah betapa inginnya ia kembali menjadi manusia.
Banyak hal yang tidak menyenangkan ketika dirinya menjadi manusia, itu tentu. Tapi setidaknya, dia memiliki hak untuk menentukan mulut siapa yang berhak menyentuhnya, lidah mana yang boleh merasakannya.
Setelah entah berapa lama, para anjing akhirnya berhasil menghabiskan makanan yang mereka temukan dan mulai menggerakkan keempat kaki mereka untuk mencari kudapan yang lain.
Tinggallah seorang diri, sang mangkok yang kini hampa. Aah, andaikan pidipopop tak pernah nyata...
Tap, tap, tap, didengarnya suara langkah satu demi satu menghampiri dari sisi kiri.
Tanpa tangan atau kaki, dia tidak bisa lari.
Kemudian para pemilik langkah tersebut sampailah di sampingnya, menunduk, dan mulai menjulurkan lidah mereka. Satu, dua, tiga lidah tergantung layu dari mulut-mulut bertaring tajam.
Kemudian, tes.
Badannya mulai dibasahi liur tetes demi tetes seiring dengan berdansanya lidah-lidah itu pada dirinya, dalam upaya untuk meraih makanan yang entah sejak kapan tersaji di atasnya.
Lembab. Becek. Sengit.
Sang mangkok tidak memiliki mata atau kelenjar air mata, juga hati atau emosi, tapi yang ada di pikirannya sekarang adalah betapa inginnya ia kembali menjadi manusia.
Banyak hal yang tidak menyenangkan ketika dirinya menjadi manusia, itu tentu. Tapi setidaknya, dia memiliki hak untuk menentukan mulut siapa yang berhak menyentuhnya, lidah mana yang boleh merasakannya.
Setelah entah berapa lama, para anjing akhirnya berhasil menghabiskan makanan yang mereka temukan dan mulai menggerakkan keempat kaki mereka untuk mencari kudapan yang lain.
Tinggallah seorang diri, sang mangkok yang kini hampa. Aah, andaikan pidipopop tak pernah nyata...
Labels:
Bahasa Indonesia,
Couchsurfing Writers Club,
CSWC
Jumat, 29 Juni 2018
Perjamuan Luar Biasa
Mataku terbuka tiba-tiba ketika mendengar keributan orang-orang di luar. Ada apa ya? Terakhir kali ada ribut-ribut seperti ini, Katara dan Sokka membawa pulang seorang bocah yang tidak memiliki rambut alih-alih ikan untuk kami makan seperti biasa. Jangan-jangan kali ini mereka menemukan anak perempuan?
Hal pertama yang aku deteksi ketika keluar dari tenda tempat tinggalku adalah ketakutan. Dalam delapan tahun hidupku, aku belum pernah menemukan rasa cemas sebesar ini di Suku Air Selatan. Panik menguasai tubuhku, memaksaku diam di tempat sementara mataku memindai kerumunan untuk mencari ibuku.
Yang kudapati, justru, adalah moncong sebuah kapal laut besar yang berhasil mendobrak benteng salju desa kami. Di depannya, berdiri seorang kebangsaan Negara Api dengan bekas luka yang mengenaskan menutupi sebagian wajah kirinya. Berteriak-teriak ia memerintah seseorang untuk keluar. Sang Avatar.
Kalau aku tidak sedang terperangkap dalam teror yang besar, aku akan mengernyitkan mataku. Memang tidak banyak hal yang aku tentang dunia, tapi satu hal yang sering diceritakan oleh Nenek Kanna adalah bahwa Avatar adalah seorang legenda yang seharusnya dapat membawa keseimbangan terhadap dunia, tapi hilang sebelum perang seratus tahun ini mulai.
Tiba-tiba, anak botak bertato panah itu menampakkan dirinya. Gila, mau apa dia? Bisa apa seorang anak kecil melawan pasukan Negara Api yang telah membuat dunia ini sebuah mimpi buruk? Entah bagaimana, bocah itu berhasil membujuk Negara Api untuk membawanya pergi dengan syarat desa kami dibiarkan aman. Hal terakhir yang aku lihat sebelum kapal itu akhirnya meninggalkan kami adalah luka di wajah sang Pangeran ketika dia berbalik menjauhi kami.
Beberapa tahun kemudian, aku melihat kembali luka itu. Masih aku ingat betapa pasrahnya aku merasa ketika terakhir kali dia ada di hadapanku. Sekarang, keadaan berbeda.
"Fire Lord Zuko, selamat datang ke kediaman sederhana kami di Kutub Selatan," ujarku seraya memberikan tanganku. Disambutnya dengan jabatan yang hangat, "Terima kasih, Ketua Suku."
Aku mengangguk, kemudian menjabat tangan yang lain. "Terima kasih atas kedatangan Anda, Avatar Aang."
Dia membalasnya dengan senyuman yang lebar. Dia mungkin tidak mengingat aku, tapi seringai itu tidak pernah aku lupakan. Sulit dipercaya, tapi bocah botak inilah yang berhasil membuat dunia dari mimpi buruk menjadi kenyataan yang indah, dibantu oleh pemilik luka di wajah kirinya yang kini menjadi salah satu pemimpin paling bijaksana yang pernah hidup.
Gila. Ini semua dapat terjadi gara-gara suatu hari Katara dan Sokka menemukannya terperangkap di bongkahan es berumur satu abad. Aku bergidik membayangkan bagaimana jadinya kehidupan sekarang jika mereka tidak pernah menemukan Aang...
Ah, sudah, jangan dipikirkan. Tidak ada waktu untuk itu. Sekarang aku harus menjamu sang Avatar dan Fire Lord dan berbincang tentang perdamaian yang akhirnya kami semua dapatkan.
Hal pertama yang aku deteksi ketika keluar dari tenda tempat tinggalku adalah ketakutan. Dalam delapan tahun hidupku, aku belum pernah menemukan rasa cemas sebesar ini di Suku Air Selatan. Panik menguasai tubuhku, memaksaku diam di tempat sementara mataku memindai kerumunan untuk mencari ibuku.
Yang kudapati, justru, adalah moncong sebuah kapal laut besar yang berhasil mendobrak benteng salju desa kami. Di depannya, berdiri seorang kebangsaan Negara Api dengan bekas luka yang mengenaskan menutupi sebagian wajah kirinya. Berteriak-teriak ia memerintah seseorang untuk keluar. Sang Avatar.
Kalau aku tidak sedang terperangkap dalam teror yang besar, aku akan mengernyitkan mataku. Memang tidak banyak hal yang aku tentang dunia, tapi satu hal yang sering diceritakan oleh Nenek Kanna adalah bahwa Avatar adalah seorang legenda yang seharusnya dapat membawa keseimbangan terhadap dunia, tapi hilang sebelum perang seratus tahun ini mulai.
Tiba-tiba, anak botak bertato panah itu menampakkan dirinya. Gila, mau apa dia? Bisa apa seorang anak kecil melawan pasukan Negara Api yang telah membuat dunia ini sebuah mimpi buruk? Entah bagaimana, bocah itu berhasil membujuk Negara Api untuk membawanya pergi dengan syarat desa kami dibiarkan aman. Hal terakhir yang aku lihat sebelum kapal itu akhirnya meninggalkan kami adalah luka di wajah sang Pangeran ketika dia berbalik menjauhi kami.
Beberapa tahun kemudian, aku melihat kembali luka itu. Masih aku ingat betapa pasrahnya aku merasa ketika terakhir kali dia ada di hadapanku. Sekarang, keadaan berbeda.
"Fire Lord Zuko, selamat datang ke kediaman sederhana kami di Kutub Selatan," ujarku seraya memberikan tanganku. Disambutnya dengan jabatan yang hangat, "Terima kasih, Ketua Suku."
Aku mengangguk, kemudian menjabat tangan yang lain. "Terima kasih atas kedatangan Anda, Avatar Aang."
Dia membalasnya dengan senyuman yang lebar. Dia mungkin tidak mengingat aku, tapi seringai itu tidak pernah aku lupakan. Sulit dipercaya, tapi bocah botak inilah yang berhasil membuat dunia dari mimpi buruk menjadi kenyataan yang indah, dibantu oleh pemilik luka di wajah kirinya yang kini menjadi salah satu pemimpin paling bijaksana yang pernah hidup.
Gila. Ini semua dapat terjadi gara-gara suatu hari Katara dan Sokka menemukannya terperangkap di bongkahan es berumur satu abad. Aku bergidik membayangkan bagaimana jadinya kehidupan sekarang jika mereka tidak pernah menemukan Aang...
Ah, sudah, jangan dipikirkan. Tidak ada waktu untuk itu. Sekarang aku harus menjamu sang Avatar dan Fire Lord dan berbincang tentang perdamaian yang akhirnya kami semua dapatkan.
Kamis, 21 Juni 2018
Tatih Empat Kaki Mungil di Rimba Raksasa
Aw. Aw. Aw.
Itu doang yang kepikiran di otak aku tiap aku jalan. Abis gimana, sakit. Apes bangetlah kemaren teh. Niatnya tuh cuma tiduran bentar gara-gara panas banget kan ya, tau-tau ada kaki raksasa yang enak banget nginjek kaki aku.
Sakit sih, tapi lebih sakit lagi waktu liat raksasanya tuh pura-pura nggak sadar barusan dia ngapain. Nggak mungkin banget nggak kerasa kalo dia hampir matahin tulang seekor makhluk hidup!
Aku masih inget rupa raksasanya. Rasanya pengen cakar-cakar itu idungnya, tapi kemaren nggak bisa jalan banget, jadi sekarang baru mau aku jalanin misi balas dendamnya. Makanya mau sakitnya kayak apa pun, aku tetep nyoba jalan pelan-pelan di tempat yang becek, bau, dan penuh banget sama spesies kejam itu.
"Ih Mamah liat ada kucing!" kata anak raksasa yang ada di depan aku, ingusnya meler melambai dari idungnya.
"Awas geuleuh kotor, nanti kamu sakit ih!" kata Mamah Raksasanya. Terus dia nendang aku masa! Anjir salah aing naooon? Ngeganggu juga nggak, minta dikasih makan juga nggak, literally cuma lagi jalan! Parah sih ini kaki nyut-nyutannya makin kerasa. Belom sempet aku ngapa-ngapain, Mamah Raksasa dan Anak Raksasa itu ngambil keresek item dari Raksasa Warung, ngasih kertas lecek tiga lembar, terus pergi. Keuheul.
Pas sakitnya udah mulai bisa ditoleransi, aku jalan lagi. Tapi naha dingin pisan ya? Oh, ada air turun dari langit. Anjir ujan. Aku cepet-cepet nyari tempat neduh. Tapi jalan aku ga bisa dicepetin da nyeri, jadi sekarang badan aku basah kuyup.
Dingin banget ini sumpah, aku ngegigil aja ga bisa ngapa-ngapain lagi. Aku liat-liat sekitar nggak ada kucing yang bisa aku ajak temenan dan pelukan biar nggak dingin-dingin banget. Aduuuh dingin banget ga tahan, bulu-bulu aku berat banget kayak waktu aku ga sengaja jatuh ke sungai yang kotor bulan lalu.
Ujan deras gini wajar aja sih nggak ada makhluk yang berkeliaran di sekitar sini. Aktivitas para raksasa di tempat mereka berkumpul nukerin kertas lecek sama barang-barang itu juga jadi kehambat. Aku diem aja di bawah pohon yang lumayan gede, sebisa mungkin ngeringkuk biar anget dan nggak makin kebasahan air ujan, ngegigil kayak cuma itu doang yang aku tau.
Mata aku berat banget. Capeeek pisan rasanya badan ini teh. Tapi aku ga boleh tidur, nanti raksasanya makin jauh nggak ketemu-ketemu, gimana mau balas dendam? Tapi mata ini berat banget euy... Berat...
Eh tapi terus kuping aku naik pas denger ada yang ngeong-ngeong. Kepala aku ngedongak, mata aku sibuk nyari-nyari sumber suaranya. Oh, ada kucing lagi rupanya, dia lagi digendong sama raksasa. Enak ya kayaknya didekap gitu, anget. Raksasanya bawa alat penangkal air pula, jadi ga akan kebasahan walaupun jalan di bawah ujan sekalipun.
"Mamah makasih ya beliin aku kuciiing..." Kata raksasa yang lebih kecil.
"Iya sama-sama, dijaga ya kucingnya, disayang," kata raksasa yang lebih gede.
Eh bentar, naha suaranya asa kenal? Pas aku liat jelas-jelas... Oh iyalah anjir itu raksasa yang kemaren nginjek kaki aku!!! Jantung aku langsung berdebar-debar, badan aku langsung pengen meluncur ke muka si raksasa terus cakar-cakar idungnya. Si anjir bedanya aing sama kucing yang ada di tangannya itu apa??? Gara-gara aing lahir di deket solokan terus kucing itu lahirnya di bawah atap nasib kita mesti beda pisan? Aing ga pantes disayang-sayang?
Ini hati udah siap banget namatin misi balas dendam, tapi sumpah badannya lemes banget... Bulu-bulu aku rasanya berat banget, kayak lebih berat dari tadi. Apalagi mata... Duh... Ga bisa ditahan... Terus mata aku merem, ga bisa dibuka. Yang bisa aku liat cuma item doang. Tapi ya udah... Seenggaknya badan aku udah nggak berat lagi.
Itu doang yang kepikiran di otak aku tiap aku jalan. Abis gimana, sakit. Apes bangetlah kemaren teh. Niatnya tuh cuma tiduran bentar gara-gara panas banget kan ya, tau-tau ada kaki raksasa yang enak banget nginjek kaki aku.
Sakit sih, tapi lebih sakit lagi waktu liat raksasanya tuh pura-pura nggak sadar barusan dia ngapain. Nggak mungkin banget nggak kerasa kalo dia hampir matahin tulang seekor makhluk hidup!
Aku masih inget rupa raksasanya. Rasanya pengen cakar-cakar itu idungnya, tapi kemaren nggak bisa jalan banget, jadi sekarang baru mau aku jalanin misi balas dendamnya. Makanya mau sakitnya kayak apa pun, aku tetep nyoba jalan pelan-pelan di tempat yang becek, bau, dan penuh banget sama spesies kejam itu.
"Ih Mamah liat ada kucing!" kata anak raksasa yang ada di depan aku, ingusnya meler melambai dari idungnya.
"Awas geuleuh kotor, nanti kamu sakit ih!" kata Mamah Raksasanya. Terus dia nendang aku masa! Anjir salah aing naooon? Ngeganggu juga nggak, minta dikasih makan juga nggak, literally cuma lagi jalan! Parah sih ini kaki nyut-nyutannya makin kerasa. Belom sempet aku ngapa-ngapain, Mamah Raksasa dan Anak Raksasa itu ngambil keresek item dari Raksasa Warung, ngasih kertas lecek tiga lembar, terus pergi. Keuheul.
Pas sakitnya udah mulai bisa ditoleransi, aku jalan lagi. Tapi naha dingin pisan ya? Oh, ada air turun dari langit. Anjir ujan. Aku cepet-cepet nyari tempat neduh. Tapi jalan aku ga bisa dicepetin da nyeri, jadi sekarang badan aku basah kuyup.
Dingin banget ini sumpah, aku ngegigil aja ga bisa ngapa-ngapain lagi. Aku liat-liat sekitar nggak ada kucing yang bisa aku ajak temenan dan pelukan biar nggak dingin-dingin banget. Aduuuh dingin banget ga tahan, bulu-bulu aku berat banget kayak waktu aku ga sengaja jatuh ke sungai yang kotor bulan lalu.
Ujan deras gini wajar aja sih nggak ada makhluk yang berkeliaran di sekitar sini. Aktivitas para raksasa di tempat mereka berkumpul nukerin kertas lecek sama barang-barang itu juga jadi kehambat. Aku diem aja di bawah pohon yang lumayan gede, sebisa mungkin ngeringkuk biar anget dan nggak makin kebasahan air ujan, ngegigil kayak cuma itu doang yang aku tau.
Mata aku berat banget. Capeeek pisan rasanya badan ini teh. Tapi aku ga boleh tidur, nanti raksasanya makin jauh nggak ketemu-ketemu, gimana mau balas dendam? Tapi mata ini berat banget euy... Berat...
Eh tapi terus kuping aku naik pas denger ada yang ngeong-ngeong. Kepala aku ngedongak, mata aku sibuk nyari-nyari sumber suaranya. Oh, ada kucing lagi rupanya, dia lagi digendong sama raksasa. Enak ya kayaknya didekap gitu, anget. Raksasanya bawa alat penangkal air pula, jadi ga akan kebasahan walaupun jalan di bawah ujan sekalipun.
"Mamah makasih ya beliin aku kuciiing..." Kata raksasa yang lebih kecil.
"Iya sama-sama, dijaga ya kucingnya, disayang," kata raksasa yang lebih gede.
Eh bentar, naha suaranya asa kenal? Pas aku liat jelas-jelas... Oh iyalah anjir itu raksasa yang kemaren nginjek kaki aku!!! Jantung aku langsung berdebar-debar, badan aku langsung pengen meluncur ke muka si raksasa terus cakar-cakar idungnya. Si anjir bedanya aing sama kucing yang ada di tangannya itu apa??? Gara-gara aing lahir di deket solokan terus kucing itu lahirnya di bawah atap nasib kita mesti beda pisan? Aing ga pantes disayang-sayang?
Ini hati udah siap banget namatin misi balas dendam, tapi sumpah badannya lemes banget... Bulu-bulu aku rasanya berat banget, kayak lebih berat dari tadi. Apalagi mata... Duh... Ga bisa ditahan... Terus mata aku merem, ga bisa dibuka. Yang bisa aku liat cuma item doang. Tapi ya udah... Seenggaknya badan aku udah nggak berat lagi.
Labels:
Bahasa Indonesia,
Couchsurfing Writers Club,
CSWC
Kamis, 24 Mei 2018
Tidak Gagal Malam Mingguan!
Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.
Jam 3 sore.
Hm. Saya masih duduk di kursi di depan komputer. Ngapain? Ya gini aja, kegiatan anak millennial yang belakangan nular ke generasi sebelum dan setelah: scroll timeline Instagram.
Saya nggak tahu udah berapa lama saya melangsungkan kegiatan ini. Dari tadi saya udah liat banyak banget post temen-temen. Ada yang post foto lagi jalan-jalan di Yogya, ada yang lagi makan di Bali, ada yang lagi main sama keponakan, ada juga yang post foto makanan.
Dari nasi goreng kambing, es kepal Milo, sampe chicken mozzarella steak dan caviar. Lengkap banget.
Saya liat post teenage crush saya waktu SMA: dia sama suami barunya lagi honeymoon di Swedia. Waw. Fotonya keren banget, lagi. Iseng, saya kasih komentar: "Asik banget euy, di Swedia. Salam buat Ikea meatballs, ya!"
Hehehe. Jadi pengen Ikea meatballs. Ketika saya lagi mikirin bola-bola daging, dateng komentar balasan darinya. "Udah disalamin, tuh. Kamu malam mingguan ngapain?"
Hmmmmmmmmmmmmmmm. Sebelum ini saya nggak pernah mikirin tentang malam mingguan, sih. Tapi kok agak kentang ya kalo saya bilang saya di kamar aja? Ih, gengsi meureun.
Kalo gitu, saya pergi ajalah biar bisa bales saya juga lagi malam mingguan. Tapi ke mana ya? Sama siapa? Coba saya liat kontak saya dulu.
Mega, temen kuliah yang juga sekarang kerja di Bandung, bisa jadi pilihan nih. Coba saya tanya dia mau saya ajak pergi ga malam ini. Wah, nggak bisa katanya, lagi kedatangan saudara dari Merauke.
Oke, saya coba Giga deh, temen komunitas jalan kaki yang sebenernya udah jarang ketemu. "Hai, Giga! Apa kabar? Lama banget ya nggak ketemu. Catch up yuk nanti malem di Cihampelas!" Saya agak berharap banyak sih karena anak ini biasanya selalu bilang oke kalo saya ajak jalan, tapi ternyata dia lagi dinas ke Subang untuk kerjaannya.
Waduh, saya mati gaya. Gimana ya? Saya udah nggak punya temen lagi nih! Coba saya buka Tinder. Siapa aja boleh deh, yang penting saya nggak gagal malam Mingguan!
Yang pertama ada bapak-bapak umur 50-an yang ngaku-ngaku masih 30 dan bujang. Ih maaf, saya belum butuh sugar daddy. Yang kedua ada mas-mas skater yang fotonya keren juga. Boleh, nih. Saya sapa ah. "Halo!" Nggak lama kemudian dateng balesan, "Hai! My girlfriend and I are looking for a partner for a threesome. Are you interested?"
Block, block, block.
Duh gimana ya? Ini udah jam 8 malem, udah 5 jam sejak mantan gebetan saya nanya saya malem mingguan ngapain. Akhirnya saya nyerah deh. Emang bukan kebiasaan saya juga malem Mingguan keluar kamar. Itu gara-gara saya introvert atau emang pemalas aja ya? Ga tau deh.
Yang kelas saya, eh, yang jelas saya ngerasa defeated bangetlah pas akhirnya bales, "Nggak ke mana-mana, di kamar aja."
Ah jadi sedih. Saya suka iri sih memang kalo liat post orang lagi bersenang-senang. Tapi ya gitu aja, cuma sampe tahap iri terus nggak pernah nyobain untuk keluar karena males. Ya udahlah, terima aja diri begini.
Nggak lama kemudian, dateng lagi balasan dari doi. "Enak atuh ya, bisa istirahat, punya me time. Aku mah susah banget punya waktu sendirian, apalagi semaleman penuh. Have fun ya!"
Oh. Bener juga ya. Saya nggak pernah keluar juga salah satu faktornya ya itu, karena capek semingguan kerja terus. Paling asik itu ketika bisa bangun telat karena nggak mesti mikirin kerjaan dan kantor.
Oke, mood saya jadi bagus lagi. Malem mingguan teh nggak harus keluar, kan? Nonton Youtube, dengerin musik, atau baca buku juga malem mingguan. Hehehe. Saya senyum aja sambil bales komentar gebetan, "Thank you ya. I will have fun. Kamu juga ya!"
Saya matiin HP saya, terus saya ambil buku yang udah lama pengen saya baca tapi belom sempet. Selamat malam Minggu!
Jam 3 sore.
Hm. Saya masih duduk di kursi di depan komputer. Ngapain? Ya gini aja, kegiatan anak millennial yang belakangan nular ke generasi sebelum dan setelah: scroll timeline Instagram.
Saya nggak tahu udah berapa lama saya melangsungkan kegiatan ini. Dari tadi saya udah liat banyak banget post temen-temen. Ada yang post foto lagi jalan-jalan di Yogya, ada yang lagi makan di Bali, ada yang lagi main sama keponakan, ada juga yang post foto makanan.
Dari nasi goreng kambing, es kepal Milo, sampe chicken mozzarella steak dan caviar. Lengkap banget.
Saya liat post teenage crush saya waktu SMA: dia sama suami barunya lagi honeymoon di Swedia. Waw. Fotonya keren banget, lagi. Iseng, saya kasih komentar: "Asik banget euy, di Swedia. Salam buat Ikea meatballs, ya!"
Hehehe. Jadi pengen Ikea meatballs. Ketika saya lagi mikirin bola-bola daging, dateng komentar balasan darinya. "Udah disalamin, tuh. Kamu malam mingguan ngapain?"
Hmmmmmmmmmmmmmmm. Sebelum ini saya nggak pernah mikirin tentang malam mingguan, sih. Tapi kok agak kentang ya kalo saya bilang saya di kamar aja? Ih, gengsi meureun.
Kalo gitu, saya pergi ajalah biar bisa bales saya juga lagi malam mingguan. Tapi ke mana ya? Sama siapa? Coba saya liat kontak saya dulu.
Mega, temen kuliah yang juga sekarang kerja di Bandung, bisa jadi pilihan nih. Coba saya tanya dia mau saya ajak pergi ga malam ini. Wah, nggak bisa katanya, lagi kedatangan saudara dari Merauke.
Oke, saya coba Giga deh, temen komunitas jalan kaki yang sebenernya udah jarang ketemu. "Hai, Giga! Apa kabar? Lama banget ya nggak ketemu. Catch up yuk nanti malem di Cihampelas!" Saya agak berharap banyak sih karena anak ini biasanya selalu bilang oke kalo saya ajak jalan, tapi ternyata dia lagi dinas ke Subang untuk kerjaannya.
Waduh, saya mati gaya. Gimana ya? Saya udah nggak punya temen lagi nih! Coba saya buka Tinder. Siapa aja boleh deh, yang penting saya nggak gagal malam Mingguan!
Yang pertama ada bapak-bapak umur 50-an yang ngaku-ngaku masih 30 dan bujang. Ih maaf, saya belum butuh sugar daddy. Yang kedua ada mas-mas skater yang fotonya keren juga. Boleh, nih. Saya sapa ah. "Halo!" Nggak lama kemudian dateng balesan, "Hai! My girlfriend and I are looking for a partner for a threesome. Are you interested?"
Block, block, block.
Duh gimana ya? Ini udah jam 8 malem, udah 5 jam sejak mantan gebetan saya nanya saya malem mingguan ngapain. Akhirnya saya nyerah deh. Emang bukan kebiasaan saya juga malem Mingguan keluar kamar. Itu gara-gara saya introvert atau emang pemalas aja ya? Ga tau deh.
Yang kelas saya, eh, yang jelas saya ngerasa defeated bangetlah pas akhirnya bales, "Nggak ke mana-mana, di kamar aja."
Ah jadi sedih. Saya suka iri sih memang kalo liat post orang lagi bersenang-senang. Tapi ya gitu aja, cuma sampe tahap iri terus nggak pernah nyobain untuk keluar karena males. Ya udahlah, terima aja diri begini.
Nggak lama kemudian, dateng lagi balasan dari doi. "Enak atuh ya, bisa istirahat, punya me time. Aku mah susah banget punya waktu sendirian, apalagi semaleman penuh. Have fun ya!"
Oh. Bener juga ya. Saya nggak pernah keluar juga salah satu faktornya ya itu, karena capek semingguan kerja terus. Paling asik itu ketika bisa bangun telat karena nggak mesti mikirin kerjaan dan kantor.
Oke, mood saya jadi bagus lagi. Malem mingguan teh nggak harus keluar, kan? Nonton Youtube, dengerin musik, atau baca buku juga malem mingguan. Hehehe. Saya senyum aja sambil bales komentar gebetan, "Thank you ya. I will have fun. Kamu juga ya!"
Saya matiin HP saya, terus saya ambil buku yang udah lama pengen saya baca tapi belom sempet. Selamat malam Minggu!
Labels:
Bahasa Indonesia,
Couchsurfing Writers Club,
CSWC
Jumat, 18 Agustus 2017
Antara Hitam dan Putih
Putih.
Hitam.
Putih.
Hitam.
Putih.
Hitam.
Putih adalah kita, kau bilang.
Putih adalah kita, dan hitam adalah mereka.
Hitam adalah mereka dan bukan kita.
Tidak pernah kita.
Tidak akan pernah kita.
Hitam tidak pernah putih, dan putih tidak sudi menjadi hitam.
Karena putih di atas hitam,
Dan hitam tenggelam di dasar kolam
Jauh, jauh, jauh di bawah
Tinggalkan
Lupakan
Hitam
Abu-abu? Tanyaku.
Tidak! Jawabmu.Putih.
Hitam.
Putih.
Hitam.
Putih.
Hitam.
Hal lainnya tidak penting, katamu.
Pintu.
Pintu cokelat.
Aku pamit, pergi sebentar.
Kau mengangguk.
Aku buka pintu cokelat itu.
Kemudian merah!
Ungu!
Hijau!
Dan warna-warna yang sebelumnya tidak aku tahu nyata
Berlarian, berkeliaran bebas
Menggenggam tanganku,
Memeluk tubuhku,
Menatap mataku,
Dan mengenaliku.
Pintu.
Pintu cokelat.
Aku mengucap salam, tanda kembali.
Kau menyambut
Aku kembali ke hadapanmu.
Merah, ku bilang.
Ungu! Hijau!
Tapi senyum yang kucari tak bertengger di wajahmu.
Geleng geleng geleng kepalamu.
Putih.
Hitam.
Putih.
Hitam.
Putih.
Hitam.
Kau bilang,
Putih adalah kita, dan hitam adalah mereka.
Tidak ada merah, atau ungu, atau hijau.
Putih adalah aku, dan aku tidak sudi menjadi hitam.
Aku tidak sudi kau menjadi hitam.
Maka aku mengangguk, lalu berkata,
"Putih."
Lalu kau mengangguk, dan berlalu.
Tak kauperhatikan merah, ungu, dan hijau yang kujaga di hatiku.
Labels:
Bahasa Indonesia,
Couchsurfing Writers Club,
CSWC,
Puisi
Minggu, 11 Juni 2017
Melindungi Mara, dan Hal-Hal Tidak Mungkin Lainnya (30 Hari Menulis #11)
Mara mempercepat langkahnya. Ini gawat.
Kami sedang berada di wilayah yang tidak kami kenali, dan matahari sudah lama berpulang ke peraduannya. Aku dan kakakku, Aadi, sudah mati-matian membujuk Mara, orang yang harus kami jaga, untuk mencari tempat yang aman. Bukan hanya dia yang membutuhkan istirahat--kami juga. Apalagi, sekarang ini kami belum berhasil mengontak siapa pun di istana, sejak kami kembali dari Bumi. Sama sekali tidak ada siapa pun yang mengetahui posisi kami saat ini. Jika Baug, musuh kami, menjadi orang pertama yang menemukan kami... Entah berapa banyak goblin yang akan dia kirim untuk menghabisi kami.
"Kalian pikir aku makhluk lemah, yang harus kalian jaga? Hanya karena aku perempuan, dan kalian laki-laki. Iya kan?" pekiknya, persis tiga menit yang lalu ketika kami lagi-lagi gagal membuatnya mengerti kacaunya situasi kami saat ini. Aku mengangkat bahu dan Aadi menghela napas berat. Kata-kata "coba ingat-ingat, siapa yang baru saja kami selamatkan dari sebuah rumah sakit jantung di dunianya?" tidak jadi aku lontarkan.
Kami masih berjalan mengikuti Mara, dengan Aadi sesekali mencoba membujuk Mara. "Membujuk" bukan kata yang tepat. Biasanya "percakapan" yang terjadi hanya seputar ini:
Aadi: Mara, sudah-
Mara: Tidak!
Aadi: Kamu bahkan tidak tahu-
Mara: Aku tidak perlu tahu!
"GAAAH!" adalah apa yang keluar dari mulut Aadi kemudian, dengan kedua tangan yang terkepal dan diangkatnya ke atas, tinggi-tinggi.
Aku menahan tawa. Harus kuakui, kukira orang yang akan kami selamatkan adalah sesosok perempuan yang rapuh dan lembut. Bagaimana tidak, hanya beberapa hari yang lalu kami menculiknya dari sebuah rumah sakit, mengeluarkan jantungnya, dan memasukkan jantung putri kami ke tubuhnya (ceritanya panjang, kita tidak punya cukup waktu untuk itu). Tapi perempuan yang sedang berjalan di depan kami ini jauh dari kata rapuh--kadang, aku rasa dia punya lebih banyak keberanian daripada diriku sendiri. Sedikit demi sedikit, aku mendapati diriku mengembangkan rasa kagum terhadap dirinya.
Aadi kembali mencoba untuk membujuk Mara, kali ini dengan meraih tangannya--tindakan yang salah. Mara meronta, berteriak, dan mereka akhirnya benar-benar berseteru sekarang. Mataku membelalak atas kejadian di depanku, kemudian segera berlari menuju mereka, menghentikan kekonyolan ini.
"Cukup!" bisikku setengah berteriak, "Jangan berisik!"
"Kamu yang jangan berisik!" sentak Mara segera. "Atau kamu mau menjelaskan sekarang juga kenapa kalian menculik aku dan membawaku ke tempat ini?"
"Sekarang bukan waktunya untuk itu..."
"Archan benar, Mara..."
"Diam, diam! Aku sudah bosan mendengar cerita tentang putri kalian, jantungnya... Kembalikan aku ke dunia di mana sihir hanya ada di novel-novel Harry Potter!"
Saat itulah, aku melihatnya. Sekilas cahaya merah dan hijau berkelebat di sisi kananku, di belakang Mara. Aku membeku. "Mara."
Mara masih mengoceh tentang sekolah, ujian, dan sesuatu bernama kuliah.
Aku meraih mukanya. "MARA."
Akhirnya, dia terdiam. Matanya melihat ke kiri dan kanan, mempelajari keadaan kami saat ini: terkepung. Dalam sekejap saja, ada sekitar delapan goblin yang berdiri mengelilingi kami.
Goblin yang berada paling dekat dengan Aadi mencoba menyerang duluan, tapi berhasil Aadi hindari. Hal itu justru memacu goblin-goblin yang lain untuk memulai penyerangan terhadap kami. Aku dan Aadi mati-matian mempertahankan posisi dengan Mara di antara kami agar dirinya tidak terluka. Hanya saja, dengan beberapa minggu berada di Bumi untuk mencari dan menyelamatkan Mara sudah menghabiskan kebanyakan energi magis kami.
Beberapa goblin terkapar di atas rumput--entah empat atau lima--entah bagaimana kami masih berhasil mengerahkan seluruh sisa kekuatan kami. Hanya saja, magi kami hampir habis, begitu pun dengan energi fisik kami. Napas kami terengah-engah. Aku tidak tahu bagaimana kondisi Aadi, karena aku bahkan tidak bisa melihat dengan jelas--kepalaku berat dan mataku berkunang-kunang. Ini gawat, jelas gawat. Di mana Mara?
Teriakannya di sebelah kiriku membuat mataku kembali awas, dan menemukannya sedang berusaha menendang dan memukul dua goblin yang berusaha melemahkannya. Aku berlari ke arahnya, tapi seorang goblin menyerangku dari belakang, dan aku terjatuh ke depan. Seraya berusaha berdiri, aku melihat ke arah Mara--Aadi sedang berlari ke arahnya. Dan itulah saat hal itu terjadi.
Entah dari mana, hutan yang gelap dan lembab itu berubah menjadi sangat terang seketika, dan hangat. Untuk beberapa saat, aku tidak bisa melihat hal lain, atau menggunakan inderaku yang lain. Yang bisa aku rasakan hanyalah nostalgia--aku pernah bertemu magi jenis ini sekali. Betapa aku merindukannya.
Detik-detik berlalu, dan perlahan-lahan semua inderaku kembali. Aku mengedipkan mata berkali-kali, mencoba untuk memperjelas pandanganku. Yang kudapatkan adalah para goblin yang tersungkur tak berdaya di atas rumput, dan Mara yang membenamkan kepalanya di dada Aadi. Aku dapat mendengarkan isaknya.
Aku hanya berdiri, diam di tempat, tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku yakin pasti berat baginya, mendapati dua orang yang berpenampilan sedikit berbeda dengan manusia pada umumnya menculiknya dari rumah sakit tempatnya menunggu kematian, untuk kemudian diceritakan kisah tentang seorang putri yang sudah mati dan jantungnya yang masih berdetak. Apalagi ketika dia mendengar bahwa sekarang dirinyalah penjaga jantung sang putri.
Ingin rasanya kuselimuti dirinya dengan pelukan, dan bisikan bahwa ini semua tidak apa-apa, kami semua akan baik-baik saja. Tapi mungkin ini bukan waktu yang tepat dan mungkin aku bukan orang yang tepat pula.
Labels:
#nulisrandom2017,
30 Hari Menulis,
Bahasa Indonesia,
fiksi,
Jantung Mara
Minggu, 26 Juni 2016
Pulang (30 Hari Menulis #26)
Pagi ini berjalan seperti biasa: aku bangun, bersiap-siap kemudian berangkat bekerja. Begitu sampai di tempat kerjaku, sebuah kafe kecil di tengah-tengah Sheffield, aku langsung membersihkan kembali tempat ini dan mempersiapkannya untuk hari ini. Aku menyapa Dan dan Phil, bartender dan chef kafe ini, kemudian kami memulai hari.
Tapi ada yang tidak biasa pada hari ini.
Beberapa jam setelah kafe dibuka, kami memasuki jam sibuk. Berbagai macam orang datang ke tempat kami untuk sekadar mengobrol, bersantai, bekerja dengan laptop mereka, atau makan siang. Aku melayani tamu-tamu kami seperti biasa, diawali dengan senyum, dan diakhiri dengan terima kasih. Beberapa tamu terlihat familiar karena sudah beberapa kali ke sini, dan beberapa di antara mereka memang bahkan sudah memiliki tempat favorit masing-masing.
Aku menyukai pekerjaanku, selain karena bayarannya bagus untuk pekerjaan yang bisa kubilang sederhana, juga karena orang-orang ini membuatku nyaman. Setidaknya, kebanyakan dari mereka.
Masuklah dua orang yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Tamu baru. Dengan sigap, aku mengantarkan menu kepada mereka, lengkap dengan senyuman termanisku, dan berkata, "Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?"
Salah satu dari mereka memandangku dari atas hingga bawah, melirik ke temannya, kemudian mereka berdua tertawa. Aku mengernyit, tidak mengerti dari mana perlakuan tidak menyenangkan ini datang. Kata-kata yang keluar dari mulut mereka kemudian memperjelas situasi.
"Sudah siap untuk pulang? Kami tidak mau orang-orang sepertimu di negara kami lagi."
Aku terpana. Hal yang kutakutkan sejak sebelum hasil referendum kemarin keluar akhirnya sudah dimulai.
Aku masih tidak bisa berkata apa-apa ketika Dan menghampiri meja mereka dan bertanya apakah ada masalah. Salah satu dari mereka menjawab, ada, ada masalah. Masalahnya adalah aku. Aku seorang pendatang yang mengambil semua pekerjaan mereka dan menikmati hasil pajak mereka. Mereka ingin aku pulang ke negaraku. Mereka ingin aku apa?
Dan meminta mereka keluar.
"Apa-apaan ini?" tanya salah satu dari mereka, marah. "Kami tidak salah, kami hanya mengatakan apa yang dipikirkan semua orang!"
"Perlakuan seperti ini tidak diterima di kafe kami," tegas Phil yang entah bagaimana sudah berada di belakangku, meletakkan tangannya di bahuku untuk menunjukkan dukungan. Aku merasa sedikit lebih baik.
"Untuk informasi Anda, Sir," aku mulai berkata, "saya lahir dan besar di negara ini, sama seperti Anda. Ini rumah saya. Saya memang sudah pulang."
Salah satu dari dua rasis itu protes, mengatakan sesuatu tentang Islam atau kulit gelapku atau hal lain yang tidak begitu aku pedulikan. Yang jelas, mereka akhirnya angkat kaki. Aku sedikit lega, tapi juga merasa bahwa ini hanyalah permulaan dari hari-hari yang tidak menyenangkan.
Aku membalikkan tubuhku, menghadap ke arah para tamu yang lain. Beberapa dari mereka sama terpakunya dengan aku tadi atas apa yang baru saja terjadi, dan beberapa lainnya - para tamu langganan - memberikan senyuman dukungan kepadaku.
Aku meminta maaf atas kejadian tidak mengenakkan barusan.
Salah satu tamu langganan kami - Louise, yang selalu memesan cokelat hangat dan duduk di samping jendela - mendekati aku, dan memberikanku sebuah pelukan yang sangat hangat. Sangat sulit bagiku untuk menahan air mataku untuk tidak jatuh. Haru menyelimuti seluruh tubuhku.
"Kamu tidak sendirian," ujarnya.
Begitu aku pulang, aku masuk ke laman sosial mediaku dan menemukan bahwa memang, aku tidak sendirian, dalam arti yang berbeda dengan yang dimaksud Louise. Akan lebih banyak rasis yang merasa benar karena Brexit, dan aku tidak bisa menyembunyikan rasa takut dan khawatirku.
Tapi aku mengingat apa yang dilakukan oleh Louise, Dan, Phil, dan tamu-tamu kafe lainnya hari ini, dan setuju bahwa aku tidak sendirian, dalam arti yang dimaksud Louise. Rasisme tidak akan menang, dan hari demi hari akan aku habiskan untuk memperjuangkan kebenaran.
Tapi ada yang tidak biasa pada hari ini.
![]() |
| Picture from bangordailynews.com |
Aku menyukai pekerjaanku, selain karena bayarannya bagus untuk pekerjaan yang bisa kubilang sederhana, juga karena orang-orang ini membuatku nyaman. Setidaknya, kebanyakan dari mereka.
Masuklah dua orang yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Tamu baru. Dengan sigap, aku mengantarkan menu kepada mereka, lengkap dengan senyuman termanisku, dan berkata, "Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?"
Salah satu dari mereka memandangku dari atas hingga bawah, melirik ke temannya, kemudian mereka berdua tertawa. Aku mengernyit, tidak mengerti dari mana perlakuan tidak menyenangkan ini datang. Kata-kata yang keluar dari mulut mereka kemudian memperjelas situasi.
"Sudah siap untuk pulang? Kami tidak mau orang-orang sepertimu di negara kami lagi."
Aku terpana. Hal yang kutakutkan sejak sebelum hasil referendum kemarin keluar akhirnya sudah dimulai.
Aku masih tidak bisa berkata apa-apa ketika Dan menghampiri meja mereka dan bertanya apakah ada masalah. Salah satu dari mereka menjawab, ada, ada masalah. Masalahnya adalah aku. Aku seorang pendatang yang mengambil semua pekerjaan mereka dan menikmati hasil pajak mereka. Mereka ingin aku pulang ke negaraku. Mereka ingin aku apa?
Dan meminta mereka keluar.
"Apa-apaan ini?" tanya salah satu dari mereka, marah. "Kami tidak salah, kami hanya mengatakan apa yang dipikirkan semua orang!"
"Perlakuan seperti ini tidak diterima di kafe kami," tegas Phil yang entah bagaimana sudah berada di belakangku, meletakkan tangannya di bahuku untuk menunjukkan dukungan. Aku merasa sedikit lebih baik.
"Untuk informasi Anda, Sir," aku mulai berkata, "saya lahir dan besar di negara ini, sama seperti Anda. Ini rumah saya. Saya memang sudah pulang."
Salah satu dari dua rasis itu protes, mengatakan sesuatu tentang Islam atau kulit gelapku atau hal lain yang tidak begitu aku pedulikan. Yang jelas, mereka akhirnya angkat kaki. Aku sedikit lega, tapi juga merasa bahwa ini hanyalah permulaan dari hari-hari yang tidak menyenangkan.
Aku membalikkan tubuhku, menghadap ke arah para tamu yang lain. Beberapa dari mereka sama terpakunya dengan aku tadi atas apa yang baru saja terjadi, dan beberapa lainnya - para tamu langganan - memberikan senyuman dukungan kepadaku.
Aku meminta maaf atas kejadian tidak mengenakkan barusan.
Salah satu tamu langganan kami - Louise, yang selalu memesan cokelat hangat dan duduk di samping jendela - mendekati aku, dan memberikanku sebuah pelukan yang sangat hangat. Sangat sulit bagiku untuk menahan air mataku untuk tidak jatuh. Haru menyelimuti seluruh tubuhku.
"Kamu tidak sendirian," ujarnya.
Begitu aku pulang, aku masuk ke laman sosial mediaku dan menemukan bahwa memang, aku tidak sendirian, dalam arti yang berbeda dengan yang dimaksud Louise. Akan lebih banyak rasis yang merasa benar karena Brexit, dan aku tidak bisa menyembunyikan rasa takut dan khawatirku.
Tapi aku mengingat apa yang dilakukan oleh Louise, Dan, Phil, dan tamu-tamu kafe lainnya hari ini, dan setuju bahwa aku tidak sendirian, dalam arti yang dimaksud Louise. Rasisme tidak akan menang, dan hari demi hari akan aku habiskan untuk memperjuangkan kebenaran.
Labels:
30 Hari Menulis,
Bahasa Indonesia,
brexit,
eu referendum
Sabtu, 25 Juni 2016
Senin, 13 Juni 2016
Aduy (30 Hari Menulis #13)
![]() |
| Picture by heise.deviantart.com |
"Ibu aja dulu waktu masih gadis nggak pernah pulang lebih dari jam delapan," lanjutnya malam itu, seraya mengiris bawang untuk persiapan memasak makan malam. "Dulu mah masih ada Mang Yuda, jadi kalo emang Ibu ada perlu pulang malem, Mangmu itu yang siap antar-jemput Ibu. Sayang orangnya udah nggak ada."
Gerakan mengiris bawang Ibu sempat terhenti sebentar, matanya yang menatap bawang putih dengan sayu sedikit berair. Mungkin sendu mengenang adiknya yang meninggal akibat kecelakaan motor saat aku masih balita, atau mungkin sekadar efek bawang?
Aku tidak menetapkan fokusku pada alasan mata Ibu berair bermalam-malam lalu. Perhatianku kutujukan terhadap jalanan kosong di depanku, diterangi cahaya remang-remang lampu jalan. Untunglah malam ini sang bulan sedang berbaik hati meminjamkan cahayanya dengan lebih terang dari biasanya.
Aku agak waswas. Padahal jalan ini kulalui setiap hari, hingga rasanya aku bisa saja sampai ke rumah dengan mata tertutup saking hapalnya. Ya tapi biasanya aku berjalan di sini pada pagi atau siang hari sih, ketika matahari masih menggantung di angkasa dan banyak orang lain berlalu-lalang. Ini pertama kalinya aku pulang melewati tengah malam begini.
Gara-gara terlalu asyik mengobrol usai kegiatan klub, aku jadi lupa waktu! Memang masih ada angkutan kota yang beroperasi pukul sekitar pukul ini karena tempat tinggalku dekat dengan terminal paling besar di kota ini, tapi aku sama sekali lupa bahwa hal yang sama tidak berlaku dengan ojek. Ah, aku menyesal!
Aku berjalan dengan hati-hati, langkahku besar dan cepat karena ingin segera sampai. Kuedarkan pandanganku ke sekelilingku. Kanan, kiri, depan, belakang. Oh ... tidak.
Dari belakangku, ada dua orang pria yang datang mendekat. Jantungku spontan berpacu empat kali lipat lebih kencang dari biasanya, keringatku dingin. Tenang, Dea, mungkin mereka memang warga di sekitar sini juga. Mungkin mereka tidak berniat jahat.
"Sendirian aja, Neng?" tanya pria yang tingginya mungkin hampir dua meter. Temannya, yang berkumis lebat, terkekeh.
Kakiku lemas, tapi aku berusaha tampak tidak acuh. Aku hanya memberi mereka sedikit anggukan dan senyuman yang sopan, kemudian kembali berjalan.
Tapi tidak bisa, karena pria berkumis lebat menarik tanganku! Aku mencoba menjerit, tapi tidak ada suara yang keluar. Mampus aku! Seharusnya aku benar-benar berkonsentrasi setiap latihan karate waktu SMA dulu!
"Nggak usah buru-buru, Neng. Main dulu atuh sama kita," sang pria tinggi menyeringai.
Aku harus melakukan sesuatu! Gigit lengannya? Cakar mukanya? Tendang kemaluannya? Ah, tubuhku berkhianat. Energiku habis diserang panik. Sekarang apa yang akan terjadi?
Tiba-tiba saja, genggaman si kumis lebat melemah, kemudian dia melepaskan lenganku. Bingung, aku memperhatikan mukanya. Pucat pasi. Hal yang sama kutemukan di wajah si tinggi. Mata mereka sama-sama terbelalak melihat ke sesuatu yang berada di belakangku.
Maka aku berbalik, dan kulihatlah sosok itu. Seorang pria, mungkin berusia awal 30-an, tingginya hampir sejajar denganku, baju dan celananya putih bersih. Dia berdiri di belakangku dengan menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung.
"Jangan ganggu dia," katanya. Aku merinding. Mungkin karena angin yang berhembus, tak lebih dari itu. Lagipula, tidak masuk akal perkataan seseorang dapat mempermainkan suhu udara.
Dia tidak melakukan apa-apa lagi. Ajaibnya, hanya tiga kata itu mampu membuat si tinggi dan si kumis lebat berbalik dan berlari. Kabur. Jauh, jauh, jauh dari aku dan pria ini.
Aku menatapnya tak percaya. Siapa dia, dan kenapa dia memiliki kuasa sebesar itu terhadap dua orang tadi? Haruskah aku juga takut padanya?
"Saya anterin pulang, ya," tawarnya.
Aku diam sebentar. Mungkin akal sehatku akan menghindar, tapi aku merasa nyaman dengan pria ini, jadi aku mengangguk mengiyakan. Lagipula, dia baru saja menyelamatkanku. Seharusnya tidak apa-apa, kan?"
"Makasih," bisikku. Aku tidak yakin dia bisa mendengarnya. Suara langkah kami saja mungkin lebih keras daripada ucapanku barusan. Tapi dia mengangguk, dan tersenyum padaku.
"Namanya siapa, Neng?"
"Dea," jawabku.
Kemudian, selama lima belas menit perjalanan kami menuju rumah, pria itu terus menanyakan banyak hal tentang aku dan ibuku. Di mana aku bersekolah, apa kabar ibuku, di mana ibuku bekerja sekarang. Aku sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu hingga melupakan rasa takutku akan kejadian yang kualami barusan. Lambat laun, pagar rumahku mulai terlihat.
"Udah nyampe," ujarnya saat kami menghentikan langkah tepat di depan pagar.
"Kok, bisa tau rumah aku di mana?" Heran, padahal aku belum pernah bilang padanya.
Dia menyeringai jahil. "Tau, atuh. Ngomong-ngomong, boleh saya minta tolong sesuatu?"
Aku mengangguk, mendengar permintaannya, kemudian melambaikan tanganku saat ia berbalik pergi. Aku mengunci pagar dan berjalan melintasi pekarangan rumah. Saat aku sedang mencari kunci pintu rumah, mendadak pintu itu terbuka sendiri.
Oh, Ibu. "Neng, tadi kamu ngapain diem dulu di depan pager?"
"Oh, tadi ngobrol dulu sama yang nganterin Neng," jawabku. Aku meletakkan sepatu di rak, kemudian mencium pipi Ibu.
Dahi Ibu mengernyit. "Tapi tadi nggak ada siapa-siapa selain Neng."
"Ada, ih, cowok. Mungkin pas Ibu liat Neng, dia udah pergi, kali."
Ibu menutup tirai dan mengunci pintu dengan dahi yang semakin kusut. "Masa, sih? Tadi Ibu lama lho merhatiin kamu."
"Iya ih, masa Dea bohong. Dia nitip salam tuh, buat Ibu."
"Oh iya?"
"Iya, katanya 'salam ya dari Aduy', gitu. Ibu kenal?"
Kunci yang dipegang Ibu terjatuh, mengejutkanku. Matanya berair, kemudian dengan sekejap tumpah ruah.
"Bu?" Mataku membelalak, "Ibu kenapa?" Aku segera mengusap-usap lengan Ibu, bingung akan reaksi ini.
"Aduy itu," kata Ibu di sela-sela isaknya, "nama panggilan Mang Yuda waktu kami masih kecil."
Labels:
30 Hari Menulis,
Bahasa Indonesia,
hantu,
Ibu
Sabtu, 11 Juni 2016
Distraksi (30 Hari Menulis #11)
Aku tidak mengerti apa yang sedang kulihat.
Salah satu dari para makhluk-makhluk hina ini menggoyang-goyangkan badannya dengan cara yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Apa yang sedang kaulakukan?" Sebuah jurus rahasia? Gerakan untuk mengumpulkan kekuatan? Aku tak habis pikir.
"Dance-off, bro! Aku dan kau!" jawabnya, menggerakkan pinggulnya ke depan dan belakang.
Aku masih belum bisa memproses apa-apa ketika sesuatu mengenaiku.
Ah, dance-off. Sebuah jurus distraksi yang terlalu kuat untuk bisa kuhindari.
Rabu, 08 Juni 2016
Jejak (30 Hari Menulis #8)
Ternyata dia belum mati.
Aku menggelengkan kepala, terkekeh kecil. Pantas saja rasanya tidak tenang, seperti ada yang kulupakan.
Aku berbalik kembali menuju rumahku, membuka kembali pintu yang tadi sudah kukunci, kemudian berjalan menuju kamarku dan menemukannya.
Ah, benar yang sudah kuduga. Persegi panjang digital yang ada di sana masih memancarkan audio visual.
Segera kumatikan televisi, sekalian kucabut kabelnya dari socket.
Kini aku bisa pergi kerja dengan tenang, tanpa menambahkan jejak karbon dari barang elektronik yang tidak kugunakan.
Ini 2016, sudah waktunya kita semua peduli lingkungan!
Aku menggelengkan kepala, terkekeh kecil. Pantas saja rasanya tidak tenang, seperti ada yang kulupakan.
Aku berbalik kembali menuju rumahku, membuka kembali pintu yang tadi sudah kukunci, kemudian berjalan menuju kamarku dan menemukannya.
Ah, benar yang sudah kuduga. Persegi panjang digital yang ada di sana masih memancarkan audio visual.
Segera kumatikan televisi, sekalian kucabut kabelnya dari socket.
Kini aku bisa pergi kerja dengan tenang, tanpa menambahkan jejak karbon dari barang elektronik yang tidak kugunakan.
Ini 2016, sudah waktunya kita semua peduli lingkungan!
Rabu, 25 September 2013
Sesal dan Malam
Aku berdiri dalam kesunyian, aman
diselimuti kegelapan malam, menatap nanar kebahagiaan yang jelas terpancar dari
balik jendelamu. Di sana, kau tampak gembira bersantap malam bersama Anis dan
suaminya. Ada seorang anak lelaki yang duduk di sampingmu. Adikmu?
Hatiku sakit memikirkanmu. Aku
menyesal. Sungguh, aku menyesal tentang apa yang telah kulalukan terhadapmu dan
Anis. Aku tahu aku seharusnya tidak berbuat begitu. Aku tahu aku salah.
Tapi tak akan pernah bisa
kuungkapkan rasa maafku kepadamu, atau Anis. Tidak kemarin, tidak hari ini,
tidak besok. Tidak selamanya.
Tak ada cukup kata atau bahasa di
dunia yang akan mampu mengutarakan penyesalan ini dengan sempurna, dan kurasa
kau dan Anis pantas mendapatkan yang lebih dari aku.
Aku tahu kau tak mengenalku, tapi
aku mengenalmu. Aku sangat mengenalmu.
Anis tak mengizinkanku, tapi
begitu aku tahu rupamu, aku selalu berada di dekatmu, setiap saat, setiap
waktu. Kau tak pernah menyadari keberadaanku karena kau tak mengenalku. Aku tersenyum
melihatmu bermain lompat tali dengan teman-temanmu ketika kau duduk di Sekolah
Dasar. Aku terharu melihatmu mengibarkan bendera merah putih dengan anggota
Paskibra di SMP-mu. Aku bangga luar biasa melihatmu lulus dari SMU.
Tak sekalipun kau mengenalku. Tak
sekalipun Anis tahu.
Di dunia kalian, tidak ada aku.
Tidak lagi. Tidak pernah.
Tapi di duniaku, hanya ada dirimu.
Hanya dirimu.
Aku masih ingat saat aku melihatmu
menangis di pelukan Anis 15 tahun lalu.
“Kamu ngapain di sini!?” bentak
Anis membuat hatiku pilu. Raut wajahnya berteriak jelas dia membenciku.
“Dia anakku,” bisikku.
“Masa bodo!” bentak Anis lagi. Kau
menangis semakin keras. Aku dan Anis masih berdiri di ambang pintu rumahnya,
menahan air mata. “Buat apa kamu ada di sini? Kamu yang tinggalin aku sama dia
begitu dia lahir dua taun lalu! Kamu nggak ada hak untuk nyebut dia anak Kamu!”
“Tapi dia anakku juga, Nis,” aku
memohon.
Yang kudapat hanyalah pintu yang
ditutup terlalu keras dan isakan yang terlalu menyayat hati.
Maafkan aku, Krista.
Aku tidak meminta kau mengakuiku
sebagai ayahmu. Aku tidak meminta kau membalas pandanganku. Aku tidak memintamu
mengampuniku.
Yang aku minta hanyalah agar kau
bahagia, seluruh hidupmu.
Dan jika aku hanyalah seseorang
yang akan menganggu kedamaianmu, maka aku akan pergi. Jauh darimu. Aku berjanji
kau tak akan pernah harus melihatku.
Aku mencoba tersenyum, membisikkan
perpisahan yang tak pernah terdengar, olehmu ataupun oleh Anis. Aku berbalik
badan, kemudian mulai melangkah.
Yang dapat kulakukan sekarang
hanyalah belajar bernapas tanpamu.
Lagi
Senyummu saat aku menjemputmu dari apartemenmu. Binar matamu saat kau sadar aku membawamu makan malam di restoran favoritmu. Raut bingungmu saat memilih makanan dari menu. Tawamu saat kaudengar candaku. Sentuhanmu ketika kau meraih tanganku. Bisikanmu saat kausampaikan rasa terima kasih padaku. Ceritamu saat kuantar kau pulang ke rumahmu. Pelukanmu ketika kuucapkan selamat malam kepadamu. Lambaianmu seraya aku melaju pulang ke tempatku.
Aah, rindu.
Aku ingin cepat-cepat bertemu lagi denganmu.
Tak adakah yang dapat kulakukan untuk mempercepat waktu?
Sampai jumpa lagi hari Sabtu.
Aah, rindu.
Aku ingin cepat-cepat bertemu lagi denganmu.
Tak adakah yang dapat kulakukan untuk mempercepat waktu?
Sampai jumpa lagi hari Sabtu.
Sabtu, 03 Maret 2012
Anggur
Aku akan selalu suka buah ini. Buah kecil yang bulat dan berwarna ungu ini.
Buah yang mengantarkan aku padamu.
Meskipun pada akhirnya aku dan kamu tidak berjalan selancar yang kita inginkan, dan masing-masing dari kita telah menemukan seseorang yang lebih cocok untuk dijadikan pasangan hidup, aku tetap menghargai fakta bahwa kita pernah bersama.
Karena ketika aku bersama kamu, ada banyak hal baru yang kamu ajarkan kepadaku. Kamu mengajari aku bahwa dunia ini indah. Kamu mengajari aku bahwa antara menangis dan tertawa, kita bisa memilih. Kamu mengajari aku bahwa kegagalan yang sesungguhnya adalah ketika kita berhenti mencoba. Kamu mengajari aku bahwa menjadi diri sendiri itu lebih penting daripada menjadi seseorang yang disukai, tetapi palsu. Kamu mengajari aku bahwa agama itu pedoman hidup, tetapi terobsesi terhadap agama membuatmu jauh dari hidup. Kamu mengajari aku bahwa akan selalu ada abu-abu di antara hitam dan putih, dan itu hal yang wajar dan tidak buruk.
Kamu mengajari aku bahwa biji-biji anggur itu perlu, untuk menumbuhkan lebih banyak anggur.
Aku masih suka anggur, sampai sekarang. Dan aku suka fakta bahwa meskipun kita tidak lagi bersama sebagai pasangan, kita masih bisa tersenyum ketika bertemu satu sama lain, dan tertawa, dan makan anggur bersama seraya berbincang tentang hidup kita masing-masing, tentang dunia, tentang cinta.
Buah yang mengantarkan aku padamu.
Meskipun pada akhirnya aku dan kamu tidak berjalan selancar yang kita inginkan, dan masing-masing dari kita telah menemukan seseorang yang lebih cocok untuk dijadikan pasangan hidup, aku tetap menghargai fakta bahwa kita pernah bersama.
Karena ketika aku bersama kamu, ada banyak hal baru yang kamu ajarkan kepadaku. Kamu mengajari aku bahwa dunia ini indah. Kamu mengajari aku bahwa antara menangis dan tertawa, kita bisa memilih. Kamu mengajari aku bahwa kegagalan yang sesungguhnya adalah ketika kita berhenti mencoba. Kamu mengajari aku bahwa menjadi diri sendiri itu lebih penting daripada menjadi seseorang yang disukai, tetapi palsu. Kamu mengajari aku bahwa agama itu pedoman hidup, tetapi terobsesi terhadap agama membuatmu jauh dari hidup. Kamu mengajari aku bahwa akan selalu ada abu-abu di antara hitam dan putih, dan itu hal yang wajar dan tidak buruk.
Kamu mengajari aku bahwa biji-biji anggur itu perlu, untuk menumbuhkan lebih banyak anggur.
Aku masih suka anggur, sampai sekarang. Dan aku suka fakta bahwa meskipun kita tidak lagi bersama sebagai pasangan, kita masih bisa tersenyum ketika bertemu satu sama lain, dan tertawa, dan makan anggur bersama seraya berbincang tentang hidup kita masing-masing, tentang dunia, tentang cinta.
Senin, 06 Februari 2012
Teman Baru
Kaki-kaki mungil Asep dengan bersemangat membawanya berjalan sedikit berlari menuju sebuah bangunan sekolah tempat dia akan membantu bapaknya berjualan bakso hari itu. Karena malamnya dia membantu Pak Haji membersihkan mesjid kampung sampai lumayan larut, pagi ini Asep baru bangun ketika matahari sudah lumayan tinggi. Semoga waktu istirahat SD itu belum mulai, pikir Asep, membawa kakinya untuk berjalan lebih cepat lagi. Waktu istirahat adalah waktu yang sangat kacau. Anak-anak seumurannya banyak yang memesan bakso Bapak sehingga Bapak kewalahan. Asep tidak mau memikirkan bapaknya repot melayani semua anak-anak itu sendirian. Ah, tanggung, dia berlari saja.
Ketika ia menukik di sebuah belokan, ia merasakan tubuhnya menghantam sesuatu dengan sangat keras yang membuatnya sedikit terpental, jatuh ke tanah. Sakit! Dengan tangan mengelus-elus pantatnya yang kesakitan, Asep dengan sigap berdiri dan mencari penyebab jatuhnya.
Ah, ternyata tadi dia bertabrakan dengan anak seumurnya. Anak itu berpakaian seragam lengkap dengan dasi dan topi. Sepatu hitamnya bagus sekali, pikir Asep. Asep mengulurkan tangannya, menawarkan bantuan untuk membantunya berdiri. Anak itu meraih tangannya.
Kedua bocah laki-laki itu saling sibuk membersihkan baju masing-masing--Asep dengan baju lusuh keturunan kakaknya dan anak itu dengan seragam bagusnya. "Maaf ya," ujar anak itu, "aku nggak liat-liat depan."
"Ah, nggak apa-apa," ujar Asep tersenyum. Orang yang baik, pikirnya, tapi rasanya ada yang aneh. Kenapa dia malah berada di luar kelas, ya... "Eh! Waktu istirahatnya udah mulai?" tanyanya panik sejurus kemudian begitu mengingat tentang bapak dan tujuan utamanya pergi ke SD itu. "Wah, gawat! Maaf ya, aku pergi duluan!"
Belum sempat Asep mengambil ancang-ancang untuk kembali berlari, anak itu menjawab dengan cepat, "Belum!"
Asep memandang anak itu aneh, seperti bertanya, "Terus kenapa kamu ada di sini?" dengan matanya.
Anak itu menunduk, seperti menunjukkan perasaan bersalah. "Aku... Aku bolos," ujarnya lirih. "Aku bolos kelas."
"Hah? Kenapa?" tanya Asep. "Kalo aku sih mendingan sekolah, deh. Pake seragam, duduk di kelas yang adem, belajar, punya banyak temen. Bukannya nggak mau bantuin ibu sama bapak kerja sih, tapi kan kalo sekolah bisa jadi pinter, bisa jadi presiden."
Anak itu termenung mendengar ucapan Asep. "Kamu bantuin ibu sama bapak kamu kerja?"
"Iya, bantuin bapak jualan bakso sampe siang, nanti gantian bantuin ibu jualan di pasar. Soalnya biar gini-gini juga, aku pinter ngitung, apalagi duit!" Asep menjawab bangga.
Anak itu memandang Asep dengan bangga. "Wow, hebat ya. Aku pasti nggak bisa bantuin mama sama papa aku kerja. Abis mereka kerjanya kayak gimana aja aku nggak tau."
"Kok bisa nggak tau sih?"
"Ya abis ketemunya kalo Sabtu sama Minggu doang, sih. Kalo hari-hari aku sekolah, mereka juga sibuk kerja. Pulangnya Maghrib, kadang malah malem," jawab anak itu. "Ini juga aku kabur mau ketemu Mama di kantornya..."
"Kamu mau ke kantor ibu kamu? Wah, hebat! Pasti kantornya gede!" Asep terkagum-kagum.
"Iya, emang gede. Aku ke kantor Mama mau ngasih hadiah... Hari ini Mama ulang taun," ujar anak itu sambil tersenyum. "Kalo nunggu sampe Mama pulang kantor, aku takut nggak sempet ketemu. Makanya... Aku bolos aja."
Asep mengangguk-angguk mengerti. "Kalo gitu, salam buat mama kamu ya, selamat ulang taun! Aku harus cepet-cepet ke tempat Bapak nih, takut keburu telat bantuinnya," ujarnya penuh sesal. Sesungguhnya, dia masih ingin berbincang lebih lama dengan anak yang hidupnya jauh berbeda dengannya ini.
Anak itu balas mengangguk, "Kamu juga yang semangat ya bantuinnya!"
Asep tersenyum, kemudian mulai berlari. Belum jauh ia berlari, anak itu berseru, "Eh, tunggu!" membuatnya berhenti dan berputar. "Nama kamu siapa?" seru anak itu.
"Asep!" jawab Asep, "Kalo kamu?"
"Joni!" seru anak itu. "Nama aku Joni! Besok kamu bantuin bapak kamu di sini lagi nggak?"
Asep mengangguk penuh semangat.
Anak itu--Joni--menyengir lebar. "Besok kita ngobrol lagi, ya!"
Asep kembali mengangguk, masih penuh semangat. Kemudian sambil saling melambai, kedua bocah itu berlari menuju orangtua mereka masing-masing, sambil sama-sama berharap bahwa besok datang dengan cepat.
"Hari ini aku dapat teman baru!"
Ketika ia menukik di sebuah belokan, ia merasakan tubuhnya menghantam sesuatu dengan sangat keras yang membuatnya sedikit terpental, jatuh ke tanah. Sakit! Dengan tangan mengelus-elus pantatnya yang kesakitan, Asep dengan sigap berdiri dan mencari penyebab jatuhnya.
Ah, ternyata tadi dia bertabrakan dengan anak seumurnya. Anak itu berpakaian seragam lengkap dengan dasi dan topi. Sepatu hitamnya bagus sekali, pikir Asep. Asep mengulurkan tangannya, menawarkan bantuan untuk membantunya berdiri. Anak itu meraih tangannya.
Kedua bocah laki-laki itu saling sibuk membersihkan baju masing-masing--Asep dengan baju lusuh keturunan kakaknya dan anak itu dengan seragam bagusnya. "Maaf ya," ujar anak itu, "aku nggak liat-liat depan."
"Ah, nggak apa-apa," ujar Asep tersenyum. Orang yang baik, pikirnya, tapi rasanya ada yang aneh. Kenapa dia malah berada di luar kelas, ya... "Eh! Waktu istirahatnya udah mulai?" tanyanya panik sejurus kemudian begitu mengingat tentang bapak dan tujuan utamanya pergi ke SD itu. "Wah, gawat! Maaf ya, aku pergi duluan!"
Belum sempat Asep mengambil ancang-ancang untuk kembali berlari, anak itu menjawab dengan cepat, "Belum!"
Asep memandang anak itu aneh, seperti bertanya, "Terus kenapa kamu ada di sini?" dengan matanya.
Anak itu menunduk, seperti menunjukkan perasaan bersalah. "Aku... Aku bolos," ujarnya lirih. "Aku bolos kelas."
"Hah? Kenapa?" tanya Asep. "Kalo aku sih mendingan sekolah, deh. Pake seragam, duduk di kelas yang adem, belajar, punya banyak temen. Bukannya nggak mau bantuin ibu sama bapak kerja sih, tapi kan kalo sekolah bisa jadi pinter, bisa jadi presiden."
Anak itu termenung mendengar ucapan Asep. "Kamu bantuin ibu sama bapak kamu kerja?"
"Iya, bantuin bapak jualan bakso sampe siang, nanti gantian bantuin ibu jualan di pasar. Soalnya biar gini-gini juga, aku pinter ngitung, apalagi duit!" Asep menjawab bangga.
Anak itu memandang Asep dengan bangga. "Wow, hebat ya. Aku pasti nggak bisa bantuin mama sama papa aku kerja. Abis mereka kerjanya kayak gimana aja aku nggak tau."
"Kok bisa nggak tau sih?"
"Ya abis ketemunya kalo Sabtu sama Minggu doang, sih. Kalo hari-hari aku sekolah, mereka juga sibuk kerja. Pulangnya Maghrib, kadang malah malem," jawab anak itu. "Ini juga aku kabur mau ketemu Mama di kantornya..."
"Kamu mau ke kantor ibu kamu? Wah, hebat! Pasti kantornya gede!" Asep terkagum-kagum.
"Iya, emang gede. Aku ke kantor Mama mau ngasih hadiah... Hari ini Mama ulang taun," ujar anak itu sambil tersenyum. "Kalo nunggu sampe Mama pulang kantor, aku takut nggak sempet ketemu. Makanya... Aku bolos aja."
Asep mengangguk-angguk mengerti. "Kalo gitu, salam buat mama kamu ya, selamat ulang taun! Aku harus cepet-cepet ke tempat Bapak nih, takut keburu telat bantuinnya," ujarnya penuh sesal. Sesungguhnya, dia masih ingin berbincang lebih lama dengan anak yang hidupnya jauh berbeda dengannya ini.
Anak itu balas mengangguk, "Kamu juga yang semangat ya bantuinnya!"
Asep tersenyum, kemudian mulai berlari. Belum jauh ia berlari, anak itu berseru, "Eh, tunggu!" membuatnya berhenti dan berputar. "Nama kamu siapa?" seru anak itu.
"Asep!" jawab Asep, "Kalo kamu?"
"Joni!" seru anak itu. "Nama aku Joni! Besok kamu bantuin bapak kamu di sini lagi nggak?"
Asep mengangguk penuh semangat.
Anak itu--Joni--menyengir lebar. "Besok kita ngobrol lagi, ya!"
Asep kembali mengangguk, masih penuh semangat. Kemudian sambil saling melambai, kedua bocah itu berlari menuju orangtua mereka masing-masing, sambil sama-sama berharap bahwa besok datang dengan cepat.
"Hari ini aku dapat teman baru!"
Minggu, 05 Februari 2012
Surat Untuk Kamu
Dear Sahabat,
Pertama-tama, aku
mau ngucapin selamat yaa atas jadiannya kamu sama gebetan kamu itu. Aku doain
semoga akur-akur terus, rukun, langgeng, lancar, tumaninah, shalehah, sakinah,
mawaddah dan segala macem itu. Serius, aamiin. Aku seneng banget kamu bahagia sama
dia.
Tapi tolong jangan
lupain aku, ya. Tolong jangan lupain gimana kita selalu bersama-sama ke
mana-mana, selalu berdua. Kamu nggak rela aku sendirian, dan begitu juga aku,
nggak mau ditinggalin kamu. Kita nggak pernah berpisah, di sekolah maupun di
rumah.
Kamu posesif banget
soal aku, nggak pernah ngebiarin siapapun bahkan nyentuh
aku. Aku juga selalu setia dengerin keluh kesah kamu, kapanpun, dimanapun.
Karena kamu tahu? Kamu itu sahabat yang paling berarti buat aku. Dan aku yakin
kamu juga berpikir kayak gitu tentang aku.
Meskipun sedikit
demi sedikit kamu mulai ngelupain aku sejak kenal sama dia dan jadi sering
pulang malem, rasa sayang aku terhadap kamu nggak pernah berkurang. Meskipun
topik perbincangan kita jadi cuma berputar sekitar dia doang, aku nggak pernah
bosen ngedengerin kamu. Meskipun akhirnya kamu udah jadi bener-bener nggak
peduli sama aku, aku masih bakal tetap di sini, di tempat yang sama terakhir
kali kita ketemu, menunggu kamu untuk inget lagi sama aku dan menjalin
persahabatan denganku lagi.
Sampai saat itu aku
bakal setia menunggu,
Diarimu.
Easy F
"Jadi gini, ya, Na," ujar Manda tiba-tiba, setelah selesai menghabiskan minuman coklatnya dalam sekali teguk di kafe langganan kami siang ini (yang, tentu saja, pada awalnya membuatku malu--tapi setelah empat tahun bersahabat dengan cewek yang tidak dapat dibilang waras ini, well, aku sudah terbiasa dengan tatapan aneh pengunjung lain). "There is no way in hell Arief itu nggak suka sama lo."
Oh, Tuhan. Aku sudah sangat bosan dengan topik ini. Ever since she discovered 9GAG and its popular myth called "friendzone", Manda selalu mengingatkan aku untuk berhenti berdekat-dekat dengan Arief kalau aku tidak ada interest untuk berkencan dengannya. Naturally, seperti nonsense Manda lainnya, aku hanya mendengarkannya sekali, memberikan komentarku (yang by the way, bernada "Lo kan tau gue sama dia itu cuma temenan. You of all people should know kita berdua will never be together, karena lo sendiri yang selalu bilang dia sama gue itu bedanya udah kayak "Alan Rickman sama Lady Gaga", and I quote, ya, itu kata-kata lo sendiri."), kemudian kupilih untuk meng-ignore semuanya sekalian.
Manda tidak puas dengan aku yang hanya diam tanpa reaksi terhadap pernyataan mendadaknya. "Say something, bitch!"
Aku menghela napas. "First of all, Manda, cuma karena lo abis nonton ulang Easy A nggak berarti lo bisa mulai bertingkah seakan-akan lo Aly Michalka dan manggil gue bitch anytime you want, because you know full well gue bukan anjing betina. Secondly, jangan lagi urusin gue sama Arief! Kita nyaman the way we are now, dan kita cuma temenan, thank you very much. Sekarang beresin buku-buku lo, kalo nggak mau kita telat masuk kelas Kepribadian."
Manda mendengus, tapi menurut. Tanpa bicara apa-apa, dia mulai memasukkan semua buku teks dan buku tulisnya ke dalam ranselnya. Kami berjalan bersama menuju kasir, membayar makanan kami, dan mulai melangkah menuju kampus yang letaknya persis di seberang jalan. Sesampainya kami di gerbang kampus, seorang cowok yang sangat kami kenal turun dari motor biru besarnya dan bertanya, "Kelas Kepribadian di ruangan mana sih?"
Aku tertawa dengan mudah. "Rief, please deh! Lo niat kuliah nggak sih?"
Arief menyengir lebar-lebar, ciri khasnya ketika sedang bercanda. Jangan bilang siapa-siapa ya, tapi ketika ia sedang memasang muka seperti itu, ia mengingatkanku akan muka seekor anjing yang lucu yang pernah kulihat di Internet sekali. Bukannya itu sangat penting, sih. "Bareng dong ke kelasnya, gue beneran nggak tau itu di mana."
"Eh kalian duluan aja deh ke sana," ujar Manda, "gue mau ke toilet dulu. Have fun, kids!" Sebelum berlalu menjauhi kami, Manda sempat mengerling padaku, seolah-olah hendak mengatakan sesuatu. Unfortunately for you, Manda, aku sama sekali tidak mengerti apa yang mau kamu sampaikan.
"Liar," bisikku pada diriku sendiri karena tahu Manda tidak benar-benar harus pergi ke toilet. Dia itu orang yang memiliki kandung kemih paling sekuat baja yang pernah kukenal. Oh, tunggu. Jangan-jangan kerlingan matanya tadi ada apa-apanya dengan topik friendzone barusan?
"Ada apaan, tuh? Kayaknya ini baru sekalinya deh gue liat Manda actually pergi ke toilet," tanya Arief bingung, kemudian amazed sendiri dengan fakta bahwa Manda ternyata manusia normal yang butuh pergi ke toilet juga.
"Dia sengaja mau ninggalin kita berdua, kayaknya, Rief," jawabku dengan malas.
"Oh, iya? Kenapa, tuh?"
"Tanya sendiri aja. Keyword: friendzone."
Arief tiba-tiba menghentikan langkahnya, dan berdiri mematung. "Maksudnya?"
Aku berhenti dan berbalik memandangnya. Melipat tangan di depan dada, aku mulai meragukan bahwa mengatakan kalimat yang barusan kukatakan adalah hal yang biasa saja dan tidak akan berdampak apa-apa. "Maksudnya," jawabku ragu, "dia pikir lo ada apa-apa sama gue. Padahal itu nggak bener banget, kan? Cewek sama cowok sahabatan itu wajar banget, lagi. Kan? Kita nggak ada apa-apa kan?"
Aku yang tadinya tenang berubah semakin gugup detik demi detik menghadapi Arief yang tidak berkata apa-apa. Oh Tuhan, jangan biarkan laki-laki bertubuh supertinggi yang ramah dan menyenangkan ini merusak persahabatan kami dengan kata-kata yang tidak ingin aku dengar. Oh Tuhan, tolong... Kembalikan waktu dan tariklah ucapanku yang barusan...
"Sebenernya, Na, tentang lo..."
Oh tidak.
"Gue..."
Jangan.
"Sebenernya... gue beneran suka sama lo, sih."
Dan persahabatan kami tamat.
Oh, Tuhan. Aku sudah sangat bosan dengan topik ini. Ever since she discovered 9GAG and its popular myth called "friendzone", Manda selalu mengingatkan aku untuk berhenti berdekat-dekat dengan Arief kalau aku tidak ada interest untuk berkencan dengannya. Naturally, seperti nonsense Manda lainnya, aku hanya mendengarkannya sekali, memberikan komentarku (yang by the way, bernada "Lo kan tau gue sama dia itu cuma temenan. You of all people should know kita berdua will never be together, karena lo sendiri yang selalu bilang dia sama gue itu bedanya udah kayak "Alan Rickman sama Lady Gaga", and I quote, ya, itu kata-kata lo sendiri."), kemudian kupilih untuk meng-ignore semuanya sekalian.
Manda tidak puas dengan aku yang hanya diam tanpa reaksi terhadap pernyataan mendadaknya. "Say something, bitch!"
Aku menghela napas. "First of all, Manda, cuma karena lo abis nonton ulang Easy A nggak berarti lo bisa mulai bertingkah seakan-akan lo Aly Michalka dan manggil gue bitch anytime you want, because you know full well gue bukan anjing betina. Secondly, jangan lagi urusin gue sama Arief! Kita nyaman the way we are now, dan kita cuma temenan, thank you very much. Sekarang beresin buku-buku lo, kalo nggak mau kita telat masuk kelas Kepribadian."
Manda mendengus, tapi menurut. Tanpa bicara apa-apa, dia mulai memasukkan semua buku teks dan buku tulisnya ke dalam ranselnya. Kami berjalan bersama menuju kasir, membayar makanan kami, dan mulai melangkah menuju kampus yang letaknya persis di seberang jalan. Sesampainya kami di gerbang kampus, seorang cowok yang sangat kami kenal turun dari motor biru besarnya dan bertanya, "Kelas Kepribadian di ruangan mana sih?"
Aku tertawa dengan mudah. "Rief, please deh! Lo niat kuliah nggak sih?"
Arief menyengir lebar-lebar, ciri khasnya ketika sedang bercanda. Jangan bilang siapa-siapa ya, tapi ketika ia sedang memasang muka seperti itu, ia mengingatkanku akan muka seekor anjing yang lucu yang pernah kulihat di Internet sekali. Bukannya itu sangat penting, sih. "Bareng dong ke kelasnya, gue beneran nggak tau itu di mana."
"Eh kalian duluan aja deh ke sana," ujar Manda, "gue mau ke toilet dulu. Have fun, kids!" Sebelum berlalu menjauhi kami, Manda sempat mengerling padaku, seolah-olah hendak mengatakan sesuatu. Unfortunately for you, Manda, aku sama sekali tidak mengerti apa yang mau kamu sampaikan.
"Liar," bisikku pada diriku sendiri karena tahu Manda tidak benar-benar harus pergi ke toilet. Dia itu orang yang memiliki kandung kemih paling sekuat baja yang pernah kukenal. Oh, tunggu. Jangan-jangan kerlingan matanya tadi ada apa-apanya dengan topik friendzone barusan?
"Ada apaan, tuh? Kayaknya ini baru sekalinya deh gue liat Manda actually pergi ke toilet," tanya Arief bingung, kemudian amazed sendiri dengan fakta bahwa Manda ternyata manusia normal yang butuh pergi ke toilet juga.
"Dia sengaja mau ninggalin kita berdua, kayaknya, Rief," jawabku dengan malas.
"Oh, iya? Kenapa, tuh?"
"Tanya sendiri aja. Keyword: friendzone."
Arief tiba-tiba menghentikan langkahnya, dan berdiri mematung. "Maksudnya?"
Aku berhenti dan berbalik memandangnya. Melipat tangan di depan dada, aku mulai meragukan bahwa mengatakan kalimat yang barusan kukatakan adalah hal yang biasa saja dan tidak akan berdampak apa-apa. "Maksudnya," jawabku ragu, "dia pikir lo ada apa-apa sama gue. Padahal itu nggak bener banget, kan? Cewek sama cowok sahabatan itu wajar banget, lagi. Kan? Kita nggak ada apa-apa kan?"
Aku yang tadinya tenang berubah semakin gugup detik demi detik menghadapi Arief yang tidak berkata apa-apa. Oh Tuhan, jangan biarkan laki-laki bertubuh supertinggi yang ramah dan menyenangkan ini merusak persahabatan kami dengan kata-kata yang tidak ingin aku dengar. Oh Tuhan, tolong... Kembalikan waktu dan tariklah ucapanku yang barusan...
"Sebenernya, Na, tentang lo..."
Oh tidak.
"Gue..."
Jangan.
"Sebenernya... gue beneran suka sama lo, sih."
Dan persahabatan kami tamat.
Langganan:
Postingan (Atom)





